Rio Bunet

My online blog

Khasanah Flora Fauna Kita

 

Flora fauna kita adalah bagian penting dari keanekaragamanat hayati Indonesia. Seringkali keberadaan mereka luput dari perhatian kita. Artikel dalam bab ini dikumpulkan dari pengamatan lapangan plus catatan dari teman-teman di daerah mengenai pengetahuan mereka, studi literature dan diskusi dengan berbagai narasumber yang kompeten. Adapula yang sifatnya mencuplik dari berita-berita dan informasi tentang flora fauna itu dari berbagai sumber, media dan laporan penelitian.

 

  • Buah Merah
  • Bekantan yang Semakin Rentan
  • Kuda
  • Rumput Kebar Rumput Masa Depan?
  • Lontar si Pohon Gula
  • Brasil Punya Karet Tim Samba Punya Nama
  • Si Komo Reptil Purba Raksasa
  • Mallika & Essential

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Buah Merah

 

Buah merah, begitu namanya disebut karena warnanya memang merah. Buah yang banyak ditemui di Papua dan sebagian Maluku itu termasuk keluarga pandan-pandanan atau Pandanaceae. Buahnya seperti cempedak, di Papua dikenal sebagai bahan pangan atau bila diproses minyaknya dapat digunakan sebagai minyak goreng. Pandanus conoideus Lam adalah nama ilmiahnya, merupakan tanaman khas di daratan Papua dengan berbagai sebutan lokal seperti sauk eken (Wamena), kain (suku katengban), kaef (suku Naglum), bitam (Timika)

 

Buah merah, mendadak mahsyur setelah temuan ahli gizi Univeristas Cenderawasih, Drs. I Made Budi disiarkan di Metro TV pada akhir tahun 2004. Beritanya sangat sensasi, buah merah dapat meningkatkan daya tahan tubuh seorang penderita HIV positif. Sejak itu berbagai tulisan tentang buah merah ramai dipulikasikan.

 

Kandungan buah merah kaya zat antioksidan. Zat yang dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh itu punya banyak kandungan antioksidan seperti karoten, beta karoten, dan tokoferol. Betakaroten misalnya berfungsi memperlambat penumpukan flek pada pembuluh arteri, membuat aliran darah lancar dari jantung ke otak. Bersama protein, betakaroten meningkatkan jumlah sel alami pembasmi penyakit dan memperbanyak aktivitas sel T Helpers dan limposit yang menjaga daya tahan tubuh (Tempo, 21 Maret 2005).

 

Majalah pertanian Trubus menulis berulangkali khasiat buah merah itu lengkap dengan kisah sukses para pasien yang sembuh berkat ekstrak buah merah.Trubus, kemudian juga menyelenggarakan seminar khusus buah merah dan mengundang Drs. I Made Budi sebagai nara sumber utama acara itu di Jakarta pada April 2005.

 

Publikasi yang gencar tentang kehebatan buah merah itu, telah meningkatkan perdagangan buah merah dalam pasar obat herbal. Berbagai merek dan kemasan ekstrak buah merah dipromosikan hingga tersebar dari Tangerang, Jakarta sampai Tajur, Bogor. Sebuah pabrik yang sukses mengolah mengkudu pun tergiur memproduksi ekstrak buah merah itu. Agaknya keinginan dan harapan banyak masyarakat kita akan obat ampuh itu semakin besar, padahal harganya tidak termasuk murah, Rp 200 ribu untuk ukuran botol kecil.

 

Apakah benar khasiat buah merah dapat menyembuhkan penyakit ? Majalah Trubus edisi Maret menyajikan berita tentang penderita yang tidak tertolong setelah mengkonsumsi buah merah itu. Berita pro dan kontra buah merah pun menjadi headline di majalah itu (lihat Trubus edisi Maret 2005). Bahkan ditengarai sudah ada produk ekstrak buah merah yang dicampur minyak goreng, atau diolah dengan cara yang kurang tepat.

 

Menurut ahli farmakologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. Frans Suyatna PhD yang dikutip majalah Tempo (21/3), menyatakan fenomena itu perlu disikapi dengan bijak. Pasalnya uji klinis buah merah untuk menyembuhkan penyakit belum benar-benar diteliti. Padahal uji klinis dibutuhkan untuk mengetahui dosis dan toksisitas kata Prof Dr. Sidik Guru Besar Farmasi UNPAD seperti dikutip Trubus.

 

Lain lagi pendapat Prof. Dr. Sudarto Pringgoutomo dosen luar biasa di Fakultas Universitas Indonesia, dalam acara Simposium Nasional bertema “Obat Herbal Indonesia, Aman, Efektif dan Berkualitas” di Jakarta, Jumat (11/3) “dana yang dibutuhkan untuk sebuah uji klinis obat di rumah sakit terbilang besar, hingga ratusan juta rupiah”. Akibatnya, menurut peneliti lainnya dalam Simposium itu, ketika sebuah obat telah melalui uji klinis dan diproduksi massal, harganya menjadi mahal. Tidak mengherankan bila akhirnya para pengusaha obat herbal mengurungkan niatnya untuk uji klinis. Padahal, potensi obat herbal di Indonesia luar biasa apabila serius dikembangkan (Kompas, 12 Maret 2005).

 

Terlepas dari semua persoalan itu, pemanfaatan buah merah sebagai obat herbal meningkat pesat saat ini. Bila biasanya buah merah hanya dikonsumsi masyarakat Papua, kini seluruh masyarakat Indonesia berburu mencarinya. Bukan tidak mungkin kondisi itu membahayakan keberadaan Pandanus Papua itu. Selain masih diambil dari alam, buah merah belum banyak dibudidayakan. Kekuatiran buah merah akan punah bukan mustahil terjadi, bila eksploitasi buah merah karena meningkatnya permintaan pasar tidak diimbangi dengan upaya melestarikannya.

 

Kekuatiran akan punahnya buah merah, telah mendorong Nicholaas Maniagasi seorang putra Serui Irian Jaya untuk melestarikan buah merah dengan membudidayakannya. Upayanya itu telah mendapat pengakuan dari Yayasan KEHATI pada acara penganugerahan KEHATI Awards 2002. Atas  prakarsanya itu Nicholaas mendapat insentif berupa trophy penghargaan dan hadiah.

 

Upaya I Made Budi juga perlu mendapat apresiasi karena telah mempromosikan potensi buah merah sebagai kekayaan hayati Indonesia. Masih diperlukan penelitian panjang dan dukungan pemerintah untuk mengangkat buah merah sebagai obat masa depan dari Indonesia, agar buah merah tidak hanya menjadi buah bibir saja [*]

 

 

 


Bekantan yang Semakin Rentan

 

Bekantan adalah primata endemik dari Kalimantan. Monyet bule berhidung mancung itu menggemaskan karena wajahnya yang lucu, ia menjadi maskot di taman hiburan Dunia Fantasi, Jakarta. Di Taman Safari Indonesia, Cisarua, boneka bekantan dijajakan sebagai suvenir. Sementara itu, patung-patung bekantan bergelayutan di pohon diabadikan monumen di kawasan jalan Taman Sari di kota seribu sungai, Banjarmasin. Bekantan memang menarik dan menawan hati, tetapi tidak begitu dengan keberadaannya yang semakin rentan dan terancam punah di belantara Borneo.

 

Di habitatnya di hutan Kalimantan, bekantan yang mempunyai nama ilmiah Narsalis larvatus, populasinya diperkirakan hanya 15.000 ekor saja. Dari tahun ke tahun populasinya terus mengalami penurunan. Kongres Primata se Asia Tenggara 2005 di Jakarta memaparkan, akibat penggundulan hutan dengan laju 3,49% pertahun bekantan telah berada di ambang kepunahan (Kompas, 3 April 2005)

 

Bekantan termasuk salah satu jenis primata Indonesia yang langka dan dilindungi. Tidak tanggung-tanggung, bekantan dilindungi tiga Surat Keputusan dan UU pelestarian satwa liar, yaitu PP Satwa Liar no. 266/1931, SK Menhut No. 301/Kpts-II/1991, dan UU no. 5/1990. Bekantan juga dimasukan appendix 1 CITES (Convention on International Trade of Endangered Species of Wild Flora and Fauna) yang artinya dilarang diperjualbelikan, baik di dalam mupun luar negeri. Tapi toh keberadaan bekantan tetap terancam, karena berbagai aktivitas yang merusak habitatnya, maupun perburuan liar (Kongres Primata, Yogyakarta, 2000).

 

Selain rusaknya habitat, bekantan juga diburu oleh masyarakat. Saat penulis berada di Desa Teluk Sampudau, di Sungai Barito, Kalimantan Tengah, salah seorang petani karet desa itu mengatakan, bekara (sebutan lokal bekantan) diburu untuk dijadikan umpan ular sanca oleh masyarakat. Motif perburuan itu dipicu oleh maraknya perdagangan kulit ular untuk industri sabuk dan tas di Banjarmasin. Bahkan di Buntok, daging bekantan dapat ditemui di pasar, dijual sebagai umpan ular.

 

Lain lagi cerita dari Teluk Adang dan Teluk Apar, Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur. Cagar alam yang merupakan surga bakau dan bekantan itu, kini hancur terbengkalai hanya menyisakan keping-keping hutan bakau saja. Selain karena adanya perubahan fungsi lahan dan peruntukan tataruang yang tumpang tindih, di wilayah itu dipadati 21.000 penduduk, pelabuhan batu bara, minyak kelapa sawit dan pelabuhan umum nasional Tanah Grogot. Merosotnya luas hutan mangrove itu sudah pasti menjadi ancaman bagi populasi bekantan di wilayah itu (Tempo, Maret 2005)

 

Sangat ironis, bekantan yang hanya ada di Kalimantan itu, terus menerus diganggu dengan berbagai modus tanpa ada upaya perlindungan yang serius dari pemerintah. Bila undang-undang yang melindunginya tidak lagi dapat mempertahankan keutuhan populasinya, maka semakin rentan saja kehidupan bekantan di habitatnya.

 

Menurut Kompas (5/3/05) setiap tahun ada tambahan sekitar 3,8 juta hektar hutan yang dirusak. Bila laju perusakan hutan (deforestasi) seperti sekarang ini, hutan tropis di seluruh Kalimantan diperkirakan punah di tahun 2010. Artinya kita tinggal menghitung hari datangnya kepunahan bekantan itu. Beberapa tahun lagi kita hanya dapat menyaksikan patung dan bonekanya saja.[*]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rumput Kebar, Rumput Masa Depan ?

 

Rumput kebar [Biophytum petersianum Klotzsch] begitu tumbuhan liar itu disebut, berasal dari lembah Kebar yang tersohor di Manokwari, Papua Barat. Walaupun disebut rumput, perawakan tumbuhan ini jauh dari bentuk rumput yang kita kenal. Daunnya hijau agak membulat dan merupakan tumbuhan perdu.

 

Menurut penelitian Agnes Imbri dari Universitas Papua, rumput kebar dengan populasi tertinggi berada di daerah kebar tengah dan timur berasosiasi dengan tumbuhan perdu lainnya Paspalum conjugatum dan si ilalang Imperata cylindrica. Rumput kebar tumbuh pada tanah ber permeabilitas sedang dan PH tanah agak masam [5,6 – 4,6]. Syarat hidup lain dari rumput kebar, curah hujan rata-rata 2.383 mm/tahun dengan suhu 26,7 derajat Celsius dan intensitas matahari 64,87 lux pada ketinggian 500-600 m dpl.

Bagi yang sudah mengenal mithos rumput kebar,kemudian memesannya pastilah untuk tujuan agar “cepat” diberi keturunan. Biasanya buahtangan itu diberikan kepada rekan perempuan yang baru menikah atau  bagi pasangan yang sudah lama menginginkan keturunan.

 

Ada juga mereka yang meminum ramuannya dan tidak pernah benar-benar membuktikan kasiatnya,alias hanya ikut-ikutan mithos orang Papua saja, “Yah, namanya juga usaha”, begitu suatu kali seorang teman berkomentar.

 

Mitos itu boleh jadi sebentar lagi akan runtuh oleh kegigihan seorang biolog dari Universitas Muhammadyah Malang. Adalah Sukarsono MSc yang awalnya tertarik kisah rumput kebar dari perbincangan rekan-rekan mitra KEHATI pada acara pertemuan “Belajar Bersama Masyarakat” [Loka tulis dan Shared Learning]. Ia pun berkeinginan menelitinya untuk membuktikan pengetahuan lokal dari Manokwari itu.

 

Tak hanya itu, obsesi pribadinya untuk meneliti kekayaan hayati melalui pendekatan riset berbasis masyarakat itu ia tuangkan  bersama teman-teman lsm lainnya dalam forum Shared Learning itu. Intinya bagaimana penelitian dapat mendukung upaya konservasi biodiversitas dan melindungi indigenous knowledge dari ancaman biopiracy di era globalisasi. Bukan cuma untuk memanfaatkan hasil riset untuk kepentingan industri semata.

 

Singkat cerita, rumput kebar pun dipesan, dikirim langsung dari Manokwari. Pengiriman agak lama, “banyak orang yang pesan, jadi harus antri, harganya pun sudah naik” kata Mujianto dari lembaga lokal PERDU yang mengirimkan pesanan itu ke Malang. Penelitian dimulai.

 

Berbulan-bulan sudah berlalu sampai datangnya SMS datang di sepotong siang. Pesan itu berbunyi: “Alhamdulillah mas, penelitian rumput kebar hampir selesai. Penelitian menunjukkan hasil nyata rumput kebar mampu menipiskan lapisan uterus yang menentukan suksesi sel telur melekat” Pesan singkatnya masih diembel-embeli, “doakan semua lancar ya.., dana riset masih saya usahakan mandiri

 

Bila penelitiannya terbukti, boleh jadi mithos rumput kebar untuk membantu kehamilan bisa mendapat dukungan ilmiah. Indigenous knowledge orang Papua tentang rumput kebar harus dilindungi adalah semangat seorang Sukarsono, juga semangat semua orang yang masih mau menghargai budaya orang Papua. Kegigihan dan kepeduliannya patut kita hargai, dan seharusnya memberikan kekuatan bagi siapa saja untuk melestarikan dan melindungi kekayaan hayati milik bangsa ini.[*]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Lontar si Pohon Gula

 

 

Mungkin belum banyak yang tahu, pohon lontar telah memberikan kehidupan bagi orang Rote dan Sabu. Gula nira hasil penyadapan selain bernilai ekonomis, juga merupakan makanan pokok mereka. Lontar juga tumbuhan serbaguna dan jadi sumber penghidupan utama di ke dua pulau yang beriklim kering itu. Batangnya dibuat bahan papan, pelepahnya dibuat dinding rumah dan kayu bakar, daun untuk atap, dan perdagangan gula nira hingga ke luar pulau telah terbukti mampu membiayai sekolah anak-anak di Rote dan Sabu.

 

Lontar [ Borassus sundaicus Beccari] adalah tanaman penghasil gula paling efisien di dunia. Lontar termasuk tanaman berkelamin ganda. Mayang jantan muncul dari pucuk lontar berupa tunas-tunas bercabang tajam berpasangan. Mayang betina menghasilkan tandan-tandan berisi buah. Buah lontar di luar Rote dan Sabu dikenal dengan nama siwalan, terutama di Jawa. Di Jawa, buah lontar lebih banyak di panen dibandingkan disadap niranya. Sebaliknya buah siwalan jarang ditemui di Rote dan Sabu akibat penyadapan nira yang memotong mayang jantan sehingga tidak menghasilkan buah.

 

Buah lontar atau siwalan termasuk sulit didapat di Indonesia, kalaupun ada tidak dijajakan secara khusus seperti pada musim buah durian atau rambutan. Buahnya kenyal dan manis hampir seperti kolang-kaling. Di Jakarta setahu penulis siwalan dijajakan di daerah Pasar Baru dan Ancol. Di  pasar-pasar tradisional di Jakarta sulit dijumpai penjaja siwalan, terlebih lagi di supermarket. Sebaliknya, kabar dari seorang teman, Thailand malah sudah mengalengkan siwalan sebagai komoditi ekspornya.

 

Pohon lontar disebut Due dalam bahasa Sabu, buah mudanya disebut Wohiru, dan buah yang telah tua disebut Wokeli. Pengambilan nira adalah proses memotong untaian bunga jantan setahap demi setahap setiap hari. Dalam dua bulan dapat dihasilkan nira sebanyak 3-5 liter, bahkan seorang yang ahli memanen dapat menghasilkan 10 liter perpohon. Penyadap nira yang terampil dapat menyadap dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa ia harus turun dari pohon.

 

Menurut penelitian James Fox, praktek pengambilan Nira di Rote menghasilkan jumlah nira yang beragam selama satu musim. Namun jumlah nira sangat ditentukan oleh jumlah mayang yang disadap. Sebatang lontar dengan lima mayang mampu menghasilkan 6,7 liter nira sehari atau 47 liter seminggu. Diakhir masa penyadapan sebatang pohon lontar dengan satu mayang masih dapat menghasilkan nira 2,25 liter perhari atau 15 liter seminggu.

 

Hasil gula nira di Sabu disebut Donahu, sedangkan setelah dimasak hingga menjadi gula padat disebut Domegeru. Cara masak nira orang Sabu dan Rote tidaklah sama. Orang Sabu memasak lebih lama, sehingga gula menjadi lebih hitam dan kental, sedangkan orang Rote memasak nira dengan perubahan hanya 15% saja.

 

Perbanyakan pohon lontar kebanyakan terjadi secara alami. Biji yang tua dibiarkan di sekitar pohon, lalu terbawa aliran air ketika hujan, atau dibawa hewan liar, dan tumbuh pada tempat-tempat di sekitar kebun. Adapula orang mengambil bibit itu lalu menanamnya ditempat yang ia kehendaki. Pada usia 5 tahun lontar baru siap di panen. Umur pohon lontar sangat panjang. Seorang Sabu yang saya temui, Matheus Liwerohi, mengatakan bahwa ia mewarisi kebun lontar yang telah berusia tiga generasi sejak jaman kakeknya, dan hingga kini masih diambil niranya.

 

Gula nira kental merupakan bahan pangan yang umum dikonsumsi orang Sabu dan Rote. Jagung atau rebusan daun singkong atau sayur-sayuran lainnya cukup “dicolek” seperti makan lalap dan sambal. Minumnya pun air nira. “Badan jadi sehat dan bertenaga”, kata Matheus menyakinkan saya.

 

Selain diolah sebagai gula padat, nira juga dibuat minuman tuak atau disebut sopie. Nira dicampur air dan bahan-bahan akar tumbuhan tertentu direndam satu malam dan ditutup rapat agar terjadi fermentasi. Kemudian hasilnya disuling [direbus dalam nyala api kecil dan uapnya dialirkan melalui pipa dan ditampung].

 

Cuka nira juga dibuat orang Sabu dan Rote. Cara membuatnya lebih mudah lagi. Cukup masukan nira dalam wadah semacam jerigen dan ditutup rapat hingga satu bulan. Cuka nira ini merupakan bumbu yang sedap untuk memasak. Ikan sebelum digoreng cukup dicelup nira.  Cuka nira hanya dibuat untuk keperluan memasak keluarga, karena waktu pembuatan yang cukup lama tidak segera menghasilkan uang, bila dibandingkan dengan memproduksi air nira atau gula.

 

Begitu cintanya orang Sabu pada Lontar, hingga Matheus yang telah merantau puluhan tahun di Kupang, selalu teringat syair dari kampung halamannya “ Bole belo raidi raihu,  Rai due nga donahu” yang artinya kurang lebih “jangan lupa tanahair tanah Sabu yaitu tanah nira dan gula”.[*]

 

 

 

 

 


Brasil Punya Karet, Tim Samba Punya Nama

 

 

Hevea Brasiliensis adalah nama latin dari tumbuhan getah karet. Dari namanya kita tahu bahwa tumbuhan karet berasal dari Brasil, negara Mega Biodiversity seperti Indonesia. Getah karet punya sejarah panjang bagi persepakbolaan di Brasil. 

 

Konon dahulu, getah karet disadap dan secara tradisional dibuat bola dengan cara getah yang mengental dililitkan pada sebatang tongkat, kemudian dibakar hingga mengembang. Salah satu ujungnya ditarik dan ditiup sehingga menggelembung menjadi bola. Ujung yang ditarik tadi diikat-simpul untuk mencegah udara keluar. Dari sanalah kaki-kaki manusia menendang-nendang bola sambil menari samba sehingga tercipta ritme paling fantastis di lapangan sepak bola. Dan sejarah mencatat Brasil telah 5 kali merebut piala dunia sepakbola itu. Bola karet telah menginspirasi orang Brasil sebagai pemain bola kelas dunia.

 

Havea brasiliensis juga tumbuh dan ditanam di Malaysia, Indonesia melalui sejarah yang panjang. Adalah Henry Wickham dan Henry Ridley dua orang berkebangsaan Inggris yang bekerja pada industri getah karet berhasil mendapat ijin pemerintah Brasil mengirim 70 ribu biji karet ke negeranya setelah berhasil disemaikan di Key Botanical Garden Inggris pada akhir abad 19. Tidak hanya sampai di situ benihpun dikirimkan ke Singapore Botanical Garden. Ridley kemudian memperkenal tanaman itu di Malaysia ketika ia menjabat sebagai pimpinan perusahaan industri karet di Malaysia.

 

Di Indonesia, karet dikenal melalui Sumatera dengan sebutan sebagai pulau perca, mungkin karena letaknya yang berdekatan dengan Malaysia sehingga karet turut dikebunkan di Sumatera. Selain karet yang berasal dari Brasil, Indonesia tidak kalah dalam hal “memiliki” tumbuhan getah atau resin seperti gondorukem, damar (Dipterocarp sp.), kopal (Agathis sp.), jelutung (Deyra sp.), jernang (Daemonorops draco), ketiau (Ganua motleyana), hangkang (Palaquium leicocarpum), perca (Palaquium gutta) and kemenyan (Styrax sp.).

 

Salah satu potensi tumbuhan getah karet kita adalah jelutung [Dyera spp] dari Kalimantan. Jelutung merupakan salah satu pohon raksasa dengan diameter batang mencapai 240 cm dan tinggi lebih dari 45 m, berbatang lurus dengan percabangan pertama dimulai pada ketinggian 30 m. Jelutung tumbuh di Jambi, Riau, Sumatera Utara disebut Abuwai dalam bahasa setempat. Di Kalimantan di tersebar di Kalbar, Kalteng dan Kalsel dikenal dengan nama lain Pantung.

 

“Jelutung merupakan pohon dwiguna yang konservasionis dan menghidupi” demikian siaran pers Kepala Pusat Informasi Kehutanan, Bp. Transtoto Handadhari. Selain diambil karetnya mutu kayunya juga sangat baik bersifat lunak berwarna putih dengan tekstur permukaan agak rata. Getahnya merupakan bahan industri perekat, vernis, ban, water proofing, cat dan bahan isolator.

 

Sayangnya tidak tertulis dalam sejarah Indonesia, apakah karet Jelutung juga pernah dibuat bola dan dimainkan di kampung-kampung seperti di Brasil? Ada hubungannya atau tidak, yang jelas Tim Nasional sepak bola Indonesia belum dapat berprestasi di ajang Piala Dunia.[*]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Si Komo Sang Reptil Purba

 

 

Si Komo hewan purba ini tak lain adalah Komodo [Vanarus komodoensis], reptile purba raksasa yang hidup di beberapa pulau di Kawasan NTT. Pulau Komodo adalah salah satunya yang dikenal dan melegenda sebagai tujuan wisata yang paling prestisius. Namun komodo juga ada di habitat alami lainnya seperti di P. Rinca dekat Labuanbajo dan di salah satiu gugus kepulauan 17 di Riung Flores. Komodo termasuk satwa carnivore dan kanibal. Ia mampu menjatuhkan lawannya dengan sabetan ekornya dan racun di liurnya.

 

         Bagi petualang sejati, mengunjungi Ora sebutan lain Komodo lebih asyik di P. Rinca, dibandingkan P.Komodo karena di sana menonton reptil buas itu sudah menjadi atraksi rutin, sehingga umpanpun selalu disiapkan pengelola Taman Nasional agar kebuasan Komodo berebut mangsa dapat diabadikan para wisatawan. Berbeda dengan di P. Rinca, komodo liar bebas mencari mangsanya, antara lain kawanan kerbau liar, rusa, kuda, monyet dan tak terkecuali manusia!. Pengunjung akan diperiksa lebih dulu sebelum memasuki pulau itu. Mereka yang kedapatan mempunyai luka atau bagi wanita yang haid, dilarang keras melanjutkan perjalanan mengelilingi pulau itu. Konon si reptil purba itu dapat mencium darah dari puluhan kilometer dengan menggunakan lidahnya.

 

         Memasuki habitat komodo di Rinca seperti bermain dalam program fear factor, karena bukan tidak mungkin pengunjung dikejar-kejar komodo atau bertemu di jalan setapak yang sempit sehingga benar-benar mendebarkan jantung. Di pintu masuk kawasan P. Rinca, puluhan komodo kecil dan sedang sudah mengumpul di beberapa tempat. Jagawana yang menjadi guide hanya berbekal sebilah kayu yang ujungnya bercabang seperti huruf Y. “Senjata ini lebih ampuh pak, kata jagawana yang mengawal saya kala itu” Bila ada komodo yang tiba-tiba menyeruduk, tongkat itu cukup disanggahkan di leher Komodo untuk menghalau reptil itu.

 

         Bicara soal Komodo, banyak hal menarik yang dapat kita ketahui. Pertama, ia adalah hewan endemik Indonesia, artinya komodo hanya ada di Indonesia,khususnya di NTT lebih khusus di P.Komodo. Dari sisi biologi,keberadaaannya di pulau yang terisolir ini ia disebut juga relic, yaitu ia bertahan dari isolasi sehingga spesies ini menjadi sangat adaptif di lingkungannya, dan ia berubah sedemikian rupa sehingga wujud tampaknya menjadi sangat khas.

 

Kedua, dari sisi kepercayaan local, komodo diyakini masyarakat di P. Komodo dan Rinca awalnya dilahirkan oleh manusia, yaitu bayi berwujud buruk rupa sehingga ia pun lebih banyak menyendiri. Tidak jelas bagaimana perkembangan sehingga ia menjadi kadal. Naga dengan mulut berapi konon terinspirasi dari Komodo berlidah kuning beraroma kuat yang dilihat ekspedisi pelaut cina ketika melewati kepulauan itu pada dahulu kala.

 

Ketiga, hewan ini menarik perhatian ilmuwan dari berbagai penjuru dunia, karena terbukti ia dapat bertahan di pulau yang keras dan terisolir. Salah seorang peneliti asing dari Harvard dibantu jagawana P. Komodo itu pernah meneliti liur komodo. Aksi mereka itu direkam oleh program TV asing dan disiarkan secara luas termasuk di Indonesia. Menurut si peneliti tadi, liur komodo terbukti mengandung bakteri yang dapat mematikan mangsanya dalam 72 jam. Tetapi yang menakjubkan, bagaimana komodo dapat bertahan hidup selama ini karena dilindingui bakteri dalam liurnya. Itulah dugaan komodo punya anti bakteri dalam tubuhnya yang ingin dibuktikan peneliti tadi. Satu-satunya ancaman kematian komodo adalah saat komodo muda [juvenile] akan dimangsa oleh komodo yang lebih tua, karenanya komodo muda lebih banyak berlindung di dahan pohon dan baru turun merayap di tanah ketika berumur 1 tahun.

 

Keempat, populasi komodo ternyata relative mudah untuk kembangbiakkan, dengan program konservasi eks situ kebun binatang mengembangbiakkan komodo di luar habitatnya. Kebun binatang Gembira Loka, Yogyakarta termasuk yang sukses mengembangbiakkan komodo di luar habitatnya. Beberapa kebun binatang di USA juga sukses membiakkan reptil ini. Setidaknya ada lebih dari 3 kebun binatang, seperti Woodland Park zoo, Seatle, Pittsburgh zoo, Kansas city zoo, Honolulu zoo. populasi komodo di habitat alami berkisar 3000 – 5000 ekor.

 

         Kelima, cara pelestarian Komodo dengan pendekatan konservasi eks-situ, dipelihara dan dibiakkan diluar habitat alaminya tergolong sukses dan dapat  dicontoh untuk species langka lainnya di Indonesia. Komodo yang langka itu masuk dalam daftar CITES dengan status endangered dan dalam IUCN sebagai vulnerable. Komodo juga menjadi daya tarik tersendiri di kebun binatang luar negeri karena mendatangkan pengunjung, dengan harga tiket yang bervariasi dari US$ 5 hingga US$45,  tentunya harga yang pantas diperhitungkan dibandingkan bila berkunjung langsung di habitat aslinya. Konon harga tiket masuk  P. Komodo dan P. Rinca sangat murah, masih lebih mahal dengan harga burger di restaurant waralaba itu.

 

         Keenam, inspirasi komodo pun mendunia hingga Hollywood membuat film tentang Komodo, yang dengan ceroboh digambarkan sebagai reptil raksasa dari Borneo. Film itu walaupun tak termasuk box office tetap saja mengundang minat penonton dan mengeruk dollar bagi industri film. Seharusnya kita sebagai “pemilik komodo” yang endemik itu dapat mengupayakan dialog internasional untuk mendapat pembagian keuntungan [benefit sharring] hasil pemutaran film itu dalam rangka melindungi sumberdaya genetik Indonesia sekaligus mempromosikan upaya perlindungan reptil purba itu. Kak Seto juga terinspirasi dengan mempopulerkan boneka si Komo yang lucu dan ”bikin macet  jalanan“ kepada anak-anak Indonesia untuk mendekatkan hewan endemik ini pada pemiliknya.[*]

 

 

 

Mallika and The Essential

 

Siapa tak kenal Malig & the essential? Hampir dipastikan banyak orang mengenal penyanyi muda debutan itu.  Lagunya kerap di putar stasiun radio di kota-kota besar Indonesia. Anak muda, professional berulangkali memutar lagunya yang ngebeat dari ipod , HP atau sound system mobil mereka.

 

Tapi siapa kenal Mallika ?, si kedele hitam asli Indonesia yang lahir dari  buah kerja keras koalisi ABC, academician-business-community di Indonesia.

Adalah PT Unilever yang memfasilitasi UGM dan petani di Ciwalen, Jabar dan Bantul DI Jogjakarta menyebarluaskan benih Malika. Pada saat program dimulai ditahun 2001-2002, Yayasan ULI Peduli-Unilever melaporkan ada  sekitar 12 petani terlibat membudidaya mallika di lahan seluas 5 hektar di Ciwalen Jawa Barat. Kemudian sejak itu, program terus berkembang, hingga tahun 2006, budidaya meluas mencapai 5,000 petani di daerah Yogyakarta, Nganjuk dan Trenggalek yang meliputi luas lahan lebih dari 400 hektar.

 

 

Mallika : from zero to hero

 

Memang mallika belum sepopuler Malig, tapi keduanya memiliki kesamaan: lahir penuh essensi dan mendobrak trend pada jamannya !

 

Kedele hitam adalah satu dari 26 varietas lokal yang di miliki Indonesia yang terabaikan dalam kancah pertanian nasional kita. Pemerintah memilih mengimport 40% kedele kuning [deffeated yellow bean] dari Amerika untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, antara lain untuk pembuatan tahu dan tempe. Wow..,fantastis, tahu tempe panganan rakyat jelata kita berbahan import. Itu artinya jika kita makan tahu-tempe yang menerima untung bukan hanya pabrik penghasil dan penjualnya, tetapi juga pemerintah Amerika.

 

Ketika program pengembangan varietas kedela hitam itu dimulai, UGM mitra ULI peduli-Unilever menjajagi keberadaan benih kedele hitam lokal. Ironisnya stok benih Cikuray di Departemen Pertanian tidak tersedia dalam jumlah cukup untuk dikembangkan. Namun Prof Mary ahli agronomi dari UGM berhasil menemukan benih kedele hitam dari sebuah pabrik kecap di Jawa Barat dan lalu mengembangkan melalui berbagai eksperimen yang di fasilitasi ULI peduli. Dari situ berhasilkan dilahirkan generasi baru kedele hitam yang diberi nama Mallika. Berkat dukungan dan fasilitas dari PT Unilever yang peduli pada potensi “si mutiara hitam” dari Jawa itu berhasil mengantarkannya masuk industri Kecap Bango.

 

Keberhasilan mengembangkan benih kedele hitam mallika sebagai benih utama [prime seed] merupakan langkah awal penting bagi perbanyakan dan perbaikan mutu kedele hitam asli Indonesia.  Sebuah pepatah tua dari Jepang menyatakan “menggunakan benih yang bermutu berarti sudah separuh kesuksesahan panen diraih”. Prof Samsoe’oed Sadjad ahli perbenihan yang guru besar IPB dalam otobiograpinya mengatakan “ tanpa benih yang baik tak mungkin pertanian memberi hasil. Petani yang tak kenal sekolahpun menyakini hal itu”

 

Mallika karena keunggulannya telah membuat sejarah pertanian tradisional beralih ke pertanian berorientasi industri, karenanya mutu dan kualitas hasil panen jadi taruhan petani agar kedele bisa diterima industri. Hal itu didukung oleh komitmen Unilever yang memberikan jaminan pembelian atas semua hasil panen yang memenuhi syarat dengan harga yang sudah disepakati bersama antara petani dan Unilever.

 

Untuk menjamin mutu dan kualitas Unilever juga memfasilitasi program ini dengan memberikan tenaga pendamping pertanian yang mumpuni, berbagai fasilitas seperti pembangunan saluran irigasi, alat perontok dan pengetahuan budidaya untuk menjamin keberhasilan kelompok tani menanam mallika.

 

Peran korporasi ditengah kegagalan pemasaran produk pertanian

 

Keberhasilan Unilever mengembangkan jenis kedele lokal baru dalam bidang konservasi jenis [species] merupakan langkah penting di Republik ini. Hal itu  merupakan terobosan ditengah kegagalan pemerintah menyediakan benih murah bermutu bagi petani. Malah saat ini banyak perusahaan yang memproduksi benih bersertifikat beroperasi ekslusif di Indonesia.

 

Selain itu pemerintah juga dinilai gagal dalam memasarkan produk pertanian kita. Sri, petani dari Ngawi berkeluh kesah dalam lokakarya temu tani se Jawa, Minggu 18/3 “Pemerintah seringkali menerapkan program tidak jelas. Kami diberitahu untuk menanam komoditas tertentu, tetapi ketika panen melimpah, pemerintah lepas tangan tak mencarikan jalan menjual produk ke daerah yang butuh” [Kompas,20/03/07]

 

Selain itu pemerintah masih menjalankan kebijakan import beras, melonggarkan pintu masuk bagi berbagai varietas buah-buahan dari negeri tetangga seperti durian monthong, apel USA, jeruk lokam Cina dll. Kebijakan ini tentu tak berpihak pada petani kita. Keadaan ini memperparah petani kita yang sejak lama telah memiliki keahlian sebagai pemulia [breeder]. Kini fungsi itu sebagian besar diambil alih oleh perusahaan penghasil benih yang menjual benih kepada petani.

 

Kondisi ini menyebabkan persoalan konservasi jenis menjadi bagian dari komersialisasi benih daripada isu moral yaitu tanggungjawab dalam melestarikan species melalui proses budidaya tanaman termasuk seleksi benih yang sejak dulu dilakukan petani-petani kita. Bahkan lembaga perbenihan milik pemerintah tak mampu melawan industri “bisnis kehidupan” itu.

 

Kembali ke Mallika….!

 

Malika tidak akan lahir tanpa campur tangan Unilever yang peduli dengan potensi sumberdaya negeri sendiri. Program ini telah berhasil mengangkat satu jenis kedele hitam Indonesia ke dunia industri dan kecap Bango telah menjadikannya sebagai duta ekonomi kita. Dari kedele hitam saja, kita dapat membangun perekonomian nasional yang memutar roda kehidupan petani, sumberdaya genetik kita dan dunia usaha/ industri di Indonesia.

 

Bila korporasi lainnya berpikir cerdas seperti ini, bendera biodiversity negeri ini pasti berkibar kukuh. Lahirnya mallika memang esensial…..! [r]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jangan Ragu Pada Sagu

“Membangun Papua dengan Sagu”

 

 

       Sagu (Metroxylon Sago) adalah tanaman pangan penghasil pati di Indonesia Timur hingga saat ini masih kurang disentuh. Padahal sagu identik dengan makanan pokok sebagian saudara kita di Indonesia Timur, mulai dari Maluku hingga Papua. Meskipun pengelolaan sagu kurang optimal, namun pati dari sagu sesungguhnya sudah digunakan secara luas misalnya sebagai bahan pembuat mie, tepung pembuat bakso, kerupuk, roti dan tepung. Bisa dibayangkan nilai startegis sagu yang dapat dikembangkan dalam membangun ketahanan pangan khususnya Indonesia timur. Alih-alih mengembangkan, pemerintah justru membanjiri Papua dengan program Raskin, meskipun beras bukanlah makanan utama kebanyakan masyarakat di Papua dan Maluku.

       Saat ini hutan Papua mulai tergedradasi oleh pembalakan liar atau ditebang untuk perkebunan kelapa sawit. Tanaman sagu adalah bagian dari ekosistem hutan di Papua. Biasanya ekosistem sagu ini disebut sebagai dusun sagu yang dikelola oleh suku atau marga tertentu. Di Papua dan Maluku sagu tumbuh liar, meski beberapa masyarakat adat di Papua membudidayakan sagu, namun umumnya sagu tumbuh alami. Sagu juga adalah benteng pertahanan terakhir sumber pangan bagi orang Papua. Mereka menokok sagu setelah persediaan ubi, talas dan pisang menipis. Karenanya Sagu selalu istimewa, ia begitu dinantikan sebagai makan idola dan penyelamat bagi keluarga.

       Indonesia memliki lahan Sagu terbesar di dunia, yaitu kurang lebih 1,25 juta hektar di Papua dan Maluku, dan 148 ribu hektar sagu semibudidaya di Riau, mentawai, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi. Menurut Wahono Sumaryono, Deputi Kepala BPPT  bidang agroindustri seperti dikutip situs resmi BPPT menyebutkan kadar pati kering dalam sagu adalah 25 ton per ha diatas kandungan pati beras yang hanya 6 ton per ha, jagung 5,5 ton per ha. Penelitian IPB

       Namun pengelolaannya masih diremehkan oleh pemerintah sebagai elemen pembangunan ekonomi daerah. Dalam sebuah diskusi di Manokwari, Papua, seorang staf Departemen Pertanian menyatakan, Sagu diperlakukan seperti “anak hilang”. Sagu tidak masuk prioritas pengelolaan di Deptan, karena ia tumbuh di kawasan Hutan. Koleganya dari Departemen Kehutanan berbalas pantun “ Sagu juga bukan punya Kehutanan karena ia komoditi pangan bukan diambil kayunya”.

       Di P. Yapen saja masyarakatnya mengenal sekurangnya 6 jenis sagu yang dibedakan atas bentuk durinya. Mereka menyebutnya Noime, Manawei, Anapi, Kurai, Ansina, Guruh. Namun nasib sagu di Pulau kecil ini nyaris sama dengan keberadaan dusun sagu di Papua lainnya. Dusun sagu kerap kali dikorbankan untuk pembangunan wilayah. Padahal masyarakat mengelolanya sebagai bagian dari pengelolaan ekosistem hutan secara lestari. Sagu di Papua dan Maluku mempunyai hubungan dengan kepemilikan atau pengelolaan oleh adat atau marga. Umumnya setiap warga di Papua memiliki keterikatan dalam pengelolaan sagu, mereka tidak bisa babat sagu seenaknya, karena ditentukan oleh pimpinan adat.

       Pengelolaan sagu sebagai bagian dari pembangunan ekonomi dan ketahanan pangan lokal sebaiknya diarahkan pada potensi sagu sebagai komoditi.  Badan Ketahanan Pangan Provinsi Papua sejak 2000 hingga 2004 menyebutkan pola konsumsi masyarakat adalah umbi-umbian30%, sagu 15% dan beras 55%. Trend pola konsumsi itu sangat mengkhawatirkan seorang warga di Tablasupa, Yos yang menyatakan “anak muda papua sudah lupa cara menanam ubi karena terbiasa makan beras. Padahal seringkali beras “hilang” dari kampung kalau ada kerusukan di Jayapura. Begitu pula yang dirasakan Mujianto, aktivis LSM yang bekerja di Bintuni, menyatakan keprihatinannya melihat mereka juga lebih senang makan mie instan daripada mengelola kebun ubi dan dusun sagunya.

       Potensi ekonomi sagu dan umbi-umbian di Papua harusnya dilihat sebagai peluang mengembangkan industri tepung nasional, karena pasokannya yang besar dan dapat dikelola secara kemitraan dengan masyarakat, tanpa tergantung bahan tepung ekspor seperti gandum. Jepang secara intensif sudah meneliti sagu dan menemukan bahwa sagu dapat digunakan sebagai bahan dasar produksi glukosa, sirup berfluktuosa tinggi, sorbitol dsb. Masa depan industri tepung atau gula Indonesia harusnya optimis dapat  dibangun di Papua, dengan perencanaan yang matang dan bervisi lingkungan, limbah industri tepung tadi bisa diolah lebih lanjut menjadi bioetanol, biogas dan bioplastik dari pada mengembangkan kelapa sawit atau bahkan menanam jarak (jatropha curcas) di Papua.

       Lebih dari itu, secara sosial orang Papua memiliki kebun sagu berdasarkan kepemilikan marga, sehingga pengembangan sagu dapat menyertakan model pengelolaan sagu secara tradisional sehingga industri tepung hanya perlu menyediakan infrastruktur dan pabrik pengolahannya saja disertai memperkenalkan teknologi panen sagu yang lebih praktis dan ekonomis menggantikan tenaga manusia yang biasanya berjam-jam menokok sagu.

       Sementara sagu dikembangkan menjadi tulang punggung ekonomi baru berbasis industri bagi pembangunan Papua, hutan dapat menjadi investasi jangka panjang dalam pasar carbon di masa depan.  Makanya jangan ragu membangun Papua dengan sagu!

 

 

 

 

Cerita Dari Timur

[sumba, kupang, kei, bintuni]

 

Kumpulan tulisan ini dibuat dari pengalaman penulis berinteraksi dengan teman-teman di Sumba, Kupang - Nusa Tenggara Timur,  Kei - Maluku Tenggara dan Bintuni, Papua.  Mereka adalah partner kerja di wilayah Timur Indonesia termasuk masyarakat di 5 desa di Kecamatan Karera, masyarakat desa Oiboa, Akle, Uithiuana Pulau Semau-Kupang, masyarakat P. Duroa Kei Kecil, masyarakat desa Tugrama 1-2, Warganusa 1-2, dan Sara di DAS Kaitero, Bintuni. Semua artikel merupakan hasil liputan , laporan kerja yang selama penulis mengelola program konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan periode 2004 hingga 2007.

 

  • Rumput dan Gulma Juga Biodiversitas
  • Padang Rumput Sumba Riwayatmu Kini
  • Brownies van Nangga
  • Konsep “three in one” Konservasi Lahan Kering di Sumba
  • Riset Berbasis Masyarakat di Semau dan Bintuni
  • Republik Ricinus Communis
  • Di Kei Kecil Kita Menaruh Harapan Besar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rumput dan Gulma juga Biodiversitas

 

Bila Seriues Band dari Bandung punya lagu Rocker Juga Manusia, yang berusaha menempatkan profesi rocker pada kemanusiaannya, maka tidaklah berlebihan bila saya ingin menempatkan rumput dan gulma sebagai anggota biodiversitas atau keanekaragaman hayati yang sama pentingnya dengan species lainnya.

 

Gulma adalah tumbuhan pengganggu yang kehadirannya tidak dikehendaki pada suatu area atau pada lokasi tanaman lain tumbuh. Rumput seringkali juga dianggap gulma bila ia tumbuh dilahan pertanian tempat tanaman dipelihara. Yang jelas gulma bukan hanya rumput, dan yang lebih pasti lagi rumput bukan cuma melulu dianggap gulma melainkan juga memiliki nilai dan kegunaan.

 

Rumput dan Gulma di Sumba menjadi perhatian penting sejak beberapa tahun terakhir. Rumput di padang savana di Sumba adalah padang rumput terluas bagi usaha peternakan lokal. Di Sumba Timur saja ada 100.600 ekor ternak sapi, kuda, kerbau yang bergantung pada padang rumput yang luasnya mencapai 70%  dari 7.000,5 km2 luas kabupaten itu [Kompas, 17/10/05]

 

Persaingan gulma chromolena odorata itu dan rumput telah menjadi perhatian sekaligus krisis ekologi di Sumba. Orang Sumba kebanyakan percaya bahwa chromonela odorata itu datang dibawa belalang kembara (locus migratoria sp) melalui kotoran belalang itu. Karenanya disebut tai kabala [tai belalang]. Apapun penyebabnya jenis cromoleana odorata memang termasuk invasif species, yang mempu menyebar, berbiak dan bertahan bahkan mengganggu populasi padang rumput. Rumput yang merupakan emas buat peternak sumba, benar-benar terdesak. Belum lagi kemarau panjang, menyebabkan bibit rumput muda terlambat tumbuh sehingga kelangkaan pakan ternak menjadi ancaman serius bagi pendapatan Pulau Sumba.

 

Berbagai macam cara dicoba. Melalui programnya sebuah lembaga donor asing di Sumba pernah memusnahkan chronela odorata dengan menyemprot herbisida untuk membersihkan gulma. Namun karena areal yang sangat luas upaya itu pun tidak efektif, gulma tersebut terus tumbuh dan tidak jarang rumput ikut mati terkontaminasi herbisida itu. Meracun belalang kembara si pembawa gulma itu juga pernah dicoba, tapi anjing dan ternak lain yang memakan belalang ikut teracuni.

 

Ada cerita dari Kecamatan Karera Sumba Timur tentang rumput dan gulma itu. Setelah kewalahan mengatasi chromonela odorata, maka timbul keinginan untuk mengetahui bagaimana gulma itu mampu bertahan di lahan kering dan tandus. Dibantu peneliti senior dari UNDANA, Dr. Prijo memaparkan hasil temuan lapangannya.

 

Sistem perakaran chromolaena odorata bercabang banyak dan adventif sehingga mampu menyerap unsur N yang terikat kuat dalam tanah. Permukaan bawah daun yang halus dan muka atas yang kasar memungkinkan tumbuhan ini menyimpan air dan embun di musim kemarau. Kemampuan lainnya adalah dalam berfotosintesa dan bertranspirasi sangat efektif sehingga memungkinkan mengalirkan hara dalam tanah dan menyerapnya hingga tersimpang di daun dan bagian hijau lainnya. Bijinya yang halus mudah diterbangkan angin dan mampu menyebar dan tumbuh ditempat yang jauh sekalipun.

 

Penelitian Chromolaena odorata itu juga dilengkapi uji laboratorium kandungan hara jaringan. Melalui hasil penelitian inilah rekomendasi penggunaan gulma itu sebagai pupuk hayati disampaikan kepada masyarakat.

 

Komposisi Kandungan Unsur Hara Jaringan Kirinyu (Chromolaena odorata)

 

 

Bagian Tumbuhan

Komposisi kandungan unsur hara ( % )

N

P

K

Ca

Mg

Na

Daun

5,24

0,84

2,,89

3,19

0,71

0,01

Batang

1,076

0,27

1,65

0,32

0,15

0,01

Akar

0,78

0,11

0,87

3,21

0,12

0,01

Sumber: Soetedjo, 2004

 

Pemanfaatan gulma Chromolaena odorata sebagai pupuk organik yang kaya nitrogen segera menjadi demam baru di kalangan petani Kecamatan Karera. Mereka tidak lagi ‘memeranginya tetapi memanfaatkannya sebagai pupuk hayati. Sebuah percobaan dilahan pertanian milik kepala desa Nangga menunjukkan penggunaan Chromolaena odorata berhasil memacu pertumbuhan vegetatif anakan padi. Namun dosis tepat untuk memperbanyak pertumbuhan bulir bulir padi masih memerlukan ujicoba lapangan yang intensif.

 

Banyaknya pemanfaatan Chromolaena odorata sebagai pupuk hayati oleh masyarakat tidak serta merta menyebabkan pertumbuhan rumput segera pulih. Dibutuhkan upaya ekstra untuk mengembangkan bibit rumput baru yang mampu menyebarkan benih dan terjamin pertumbuhannya dimusim kemarau.

 

Salah satu penelitian yang dilakukan masyarakat bersama LSM lokal Yayasan Alam Lestari dan UNDANA adalah membudidayakan rumput dari jenis baru dan rumput lokal untuk menjamin terjadi penyebarluasan biji rumput ke padang gembala. Jenis rumput yang dibudidayakan selain untuk pakan ternak yang akan dinilai kandungan gizinya [disukai ternak] juga akan diteliti jenis rumput yang cocok untuk konservasi lahan kering agar hara tanah tidak mudah terlindi.

 

Jenis rumput yang dibudidaya ada beberapa jenis yaitu :  Brachiria mexicana, Brachiria Mutica, Rumput Benggala dan Rumput Setaria  merupakan jenis rumput introduksi sedangkan Kahirik dan Mapu adalah jenis rumput lokal Sumba.

 

 

 

 

 

Gambar Rumput Brachiria Mexicana

Gambar Rumput  Brachiria Mutica

Gambar  Rumput  Setaria

 

 

 

 

Gambar  Rumput  Benggala

Gambar  Rumput  Kahirik

Gambar . Rumput  Mapu

 

 

Boleh jadi budidaya rumput adalah yang pertama kali dilakukan di Sumba Timur. Tidak jarang orang heran dengan upaya itu, apalagi lokasi penanamannya dijaga ketat agar selamat dari ternak yang berkeliaran, sesuatu yang tidak lazim di Sumba!  Pada usia 8 minggu panen pertama sudah dilakukan untuk ujicoba jenis rumput yang disukai sapi. Masyarakat langsung yang diminta menilai tingkah laku sapi dalam mengkonsumsi jenis-jenis rumput tadi.

 

Penelitian terhadap gulma dan rumput dilakukan untuk menjawab krisis ekologi yang dihadapi masyarakat Sumba Timur.  Bila penelitian terapan seperti itu tidak pernah dilakukan, mungkin nasib gulma dan rumput-rumputan kita tetap saja diabaikan. Akan tetapi setelah diketahui manfaatnya, semua akan berkata rumput dan gulma juga berguna.[*]


Padang Rumput Sumba, Riwayatmu kini….

 

 

Sejak dulu, padang rumput Sumba telah dikenal sebagai tempat terbaik memelihara kuda. Kuda sumba adalah juga bagian dari padang rumput menghijau yang mengalir sungai dari hutan-hutannya, seperti pepatah tua Sumba “Padanjara hamu, Matawai amahu” yang masyhur hingga kini. Pepatah tua itupun tertera pada lambang pemerintahan Sumba Timur yang bergambar kuda di depan rumah tradisional Sumba seolah memperkuat identitas Kabupaten itu.

 

Namun siapa sangka, simbol itu kini justru tidak menggambarkan kondisi yang sesungguhnya.Rumput padang sabana yang luas menghias bukit-bukit berkarang di Sumba, tidak lagi menjadi pakan ternak terbaik. Kuda gagah justru banyak ditemui di Kota Waingapu, karena pemiliknya mampu menyediakan rumput untuk kuda kesayangannya itu. Sementara kuda-kuda liar di hamparan padang rumput, terus menurun bobotnya,begitu juga ternak lainnya. Rumput padang sabana, tidak subur lagi.

 

Kemasyuran Sumba sebagai penghasil ternak terus merosot, padahal kuda diperdagangkan sebagai alat transportasi ke luar Sumba sejak 1840 (J de Roo). Populasi kuda terganggu karena wabah penyakit hewan dan hama perusak rumput melanda pada sekitar 1940. Sebelum perang dunia II hampir setiap bulan Sumba Timur berhasil menjual sapi, kuda dan kerbau rata-rata 1.500 ekor. Puncak merosotnya ternak terjadi pada 1999- 2002, dimana perdagangan ternak dari Sumba ke Surabaya dan Jakarta turun hampir separuhnya (Dhakidae, 2003)

 

         Namun begitu, hewan ternak terutama kuda merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tradisi masyarakat Sumba, khususnya untuk upacara perkawinan dan kematian, jumlah ternak yang dipersembahkan menjadi ukuran penghormatan terhadap tradisi para leluhur. Hanya saja cara berternaknya masih tradisional, dilepas di alam bebas, dan pakannya tergantung pada musim hujan. Hal itu mengandung resiko ketidakcukupan rumput segar sebagai pakan, sehingga bobot ternak menurun, tingkat reproduksi dan ketahanan tubuh merosot dan kematian tak terkendali.

 

Riwayat padang rumput itu kini menjadi ancaman serius bagi masyarakat Sumba. Bukan saja karena kualitas ternak menurun, tetapi ternak yang kelaparan itu menghabiskan apa saja yang ditanam petani di kebun, termasuk atap jerami rumah milik masyarakat. Peristiwa itu telah menjadi masalah sosial tersendiri di Kecamatan Karera Sumba Timur.

 

Keprihatinan itu telah mendorong masyarakat Desa Nangga dan desa di sekitarnya untuk membuat aturan pengelolaan sumberdaya yang dapat mengakomodir kepentingan usaha ternak maupun bertani di kebun. Salah satunya adalah memulihkan padang rumput. 

 

Difasilitasi oleh Yayasan Alam Lestari dan Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana, Kupang,masyarakat kecamatan Karera, Sumba Timur melakukan penelitian jenis rumput-rumputan. Melalui penelitian dan budidaya rumput itu diharapkan dapat menemukan jenis rumput sebagai alternatif pakan ternak dan sekaligus menjadi penahan erosi untuk konservasi lahan kering.

 

Penanaman beberapa jenis rumput dilakukan di Desa Nangga, memilih jenis-jenis introduksi seperti rumput Brachiaria mutica, Setaria sphacelata, Euchlaena mexicana,   jenis rumput yang dianjurkan seperti rumput benggala (Panicum maximum), dan rumput lokal Mapu (Andropogon plumosus) dan Kahirik (Andropogon pertusus)yang dikambil di wilayah Kabahu Sumba Timur. Rumput-rumput itu ditanam dalam petak uji tanam.

 

Hasil pemilihan rumput tersebut merupakan kerjasama dengan pihak-pihak seperti Dinas Peternakan Kupang, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Naibonat, Balai Penelitian ternak di Grati Pasuruan,  Balai Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak di Kupang. Untuk membantu penelitian lapang uji tanam rumput itu, seorang mahasiswa UNDANA diterjunkan langsung melakukan budidaya dibantu masyarakat.

 

Untuk menemukan jenis rumput yang mampu menjadi bahan konservasi lahan, tanah sebelum ditanami diuji sifat fisik dan kimia tanahnya.  Sedangkan untuk menemukan jenis rumput pakan ternak yang dapat meningkatkan kualitas ternak, jaringan rumput diuji dan pertambahan berat ternak sesuai jenis rumput yang diberikan akan menjadi indikatornya.

 

Penyebaran rumput tidaklah sulit karena  tanaman itu hanya memerlukan angin dalam penyebarannya. Selain itu tujuan penanaman rumput itu adalah untuk memusatkan pertumbuhan rumput yang diharapkan akan merubah prilaku beternak lepas (overgrassing) menjadi sistem ternak semi intensif, dimana ternak tidak dilepas bebas, tetapi dikandangkan pada daerah yang cukup terdapat rumput.

 

 Keuntungan dari sistem semi intensif itu adalah penumpukan kotoran ternah pada lokasi bekas kandang dapat  meningkatkan hara tanah untuk budidaya pertanian. Sistem itu dapat dilakukan dengan rotasi 1 – 2 tahun sekali

 

Akankah penelitian itu dapat menjadi langkah penting bagi upaya pemulihan padang rumput di Sumba Timur ? Semuanya terpulang pada komitmen dari pihak-pihak yang telah memulainya. Setidaknya sebuah upaya bersama antara masyarakat, LSM dan Perguruan Tinggi untuk menggali potensi rumput-rumputan sebagai salah satu kekayaan hayati di negeri sabana itu telah dimulai. Jawabannya tentu tidak ada pada rumput yang bergoyang…..[*]


Brownies van Nangga

 

 

Siapa tidak kenal brownies? Kita pasti tergoda dengan kelezatannya. Orangkota pasti mengenalnya. Konon brownies awalnya dianggap cake gosong, tetapi warna coklat-hitamnya justru kemudian membuatnya terkenal dan mendunia. Bahkan disebagian komunitas masyarakat kota telah menjadi gaya hidup, mulai kue ulangtahun, kue persembahan hari kasih sayang “valentine”. Dikukus atau di oven tetap disuka. Ibu-ibu rumahtangga sampai selebritis pun mencoba peruntungan buka usaha brownies. Walau cuma tepung dan coklat jadi bahan utamanya, tapi yang ditawarkan  adalah life style!

 

Lalu, ada apa dengan brownies dari Desa Nangga, Sumba Timur? Sudahkah gaya hidup kota menular ke Desa di Kecamatan Karera itu? Jawabannya tidak!, tapi lebih dari itu. Sepotong brownies, yang dihidangkan pada pertemuan desa kali awal Februari 2006 adalah titik awal kebangkitan masyarakat untuk peduli umbi-umbian lokal. Brownies dari Nangga itu terbuat dari bahan tepung umbi gadung [Dioscorea hispidia atau iwi dalam bahasa Sumba]. Suguhan brownies juga jadi tanda matinya stigma lama, makan umbi identik dengan kemiskinan yang kemudian dijadikan indikator keluarga miskin bagi yang mengkonsumsinya.  

 

Suguhan brownies bertabur kacang juga merupakan kebangkitan bagi kelompok perempuan, yang kali ini menghadiri pertemuan perencanaan tahunan program di desa Nangga. Selain mencicipi brownies umbi gadung, ibu-ibu yang datang ke pertemuan juga penasaran ingin tahu cara membuatnya. Maka tawaran praktek mengolah umbi-umbian disambut antusias oleh peserta.  Sepuluh perempuan yang hadir saat itu langsung mendaftar ikut pelatihan olah umbi-umbian yang dijadwalkan Maret 2006, oleh staf Yayasan Alam Lestari.

 

Lain di Nangga, lain pula di Waingapu. Staf Yayasan Alam Lestari yang baru pulang kunjungan belajar budidaya dan olah umbi-umbian dari Simpul Pangan Jogjakarta mendapat kesempatan untuk melatih ibu-ibu PKK di rumah dinas Bupati Sumba Timur. Upaya itu sekaligus digunakan adalah promosi langsung pada pemerintah kabupaten untuk mengngakat harkat umbi-umbian lokal yang berlimpah di desa-desa.

 

Pelatihan budidaya dan pengolahan umbi-umbian lokal ini adalah upaya pemberdayaan masyarakat dalam memperjuangkan ketahanan pangan di desa-desa. Berdasarkan identifikasi masyarakat saat melakukan studi banding ke Jogjakarta, di Kecamatan Karera terdapat jenis-jenis seperti iwi, ganyur [Canna edulis], litang [Dioscoreta alata], hili [Xanthosoma violaceum], kalita atau tangiggu [Maranta arundinacea], luai [Monihot esculanta], katabi [Ipomoea batatas], kabuota [Amorphophalus companulatus], wiwatu [Dioscorea bulbifera]. Semuanya dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi berbagai macam panganan. Saat ini beberapa orang turut membudidayakan umbi-umbi itu di pekarangan. Dahulu umbi-umbi itu hanya diperoleh di hutan ketika paceklik datang dan masyarakat kekurangan pangan.

 

Brownies dan kue keriung lain yang dibuat dari bahan pati umbi-umbian sudah mulai bermunculan di Sumba Timur. Dorongan pihak-pihak lain untuk melestarikan umbi-umbian sebagai pangan lokal pun tumbuh. Selain dari Dharmawanita Sumba Timur, sebuah stasiun radio FM lokal menyiarkan wawancara langsung seputar kiprah Yayasan Alam Lestari memanfaatkan umbi-umbian sebagai ketahanan pangan masyarakat

 

Brownis di desa Nangga bukan saja menjadi simbol kebangkitan rakyat untuk membangun ketahanan pangan desa tetapi sekaligus meruntuhkan stigma yang telah tumbuh bertahun-tahun bahwa umbi identik dengan kemiskinan. Langkah itu bukanlah pekerjaan mudah,  perlu keberanian dan kepedulian untuk mencintai kekayaan hayati milik sendiri. Kepada mereka yang telah  membuktikan umbi-umbian dapat bermanfaat dan berharga layak disebut pejuang. Mudah-mudahan gaya hidup seperti itulah yang berkembang di masa depan di desa-desa Sumba Timur. Jangan cuma cinta brownies karena ikut-ikutan. [*]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Paket “three in one” Konservasi Lahan Kering

di Sumba Timur

 

 

Potensi ternak dan masalahnya

 

Peternakan di kabupaten Sumba Timur sudah berlangsung lama, bahkan menurut J de Roo (1890), kuda sandel (sandalwood) sudah menjadi bagian hidup masyarakat di sana sejak pertengahan abad ke-18, terutama sebagai alat transportasi. Perdagangan kuda ke luar Sumba Timur melalui Waingapu sudah berlangsung sejak tahun 1840-an. Pada jaman dulu, kuda sebagian besar dimiliki dalam jumlah besar oleh kaum bangsawan dan melalui para bangsawan itulah banyak kuda diperdagangkan ke luar Sumba. 

 

Luas lahan penggembalaan mencapai 217.797 hektar, sedangkan jumlah populasi kuda pada tahun 2001 mencapai 25.845 ekor  dan populasi sapi sebanyak 36.714 ekor.  Perdagangan antarpulau dengan tujuan Surabaya dan Jakarta selama empat tahun terakhir mengalami penurunan, sapi misalnya dari 6.901 ekor (1998) menjadi sekitar 3.564 ekor (2001), Kerbau dari 5.741 ekor (1998) menjadi 2.980 ekor (2001), Walaupun mengalami penurunan jumlah yang cukup signifikan, ketiga hewan tersebut tetap memiliki nilai penting bagi masyarakat Sumba Timur, baik sebagai tambahan penghasilan, terutama sebagai status simbol dalam berbagai upacara tradisional. 

 

Walaupun bukan unggulan, ternak boleh dibilang menjadi tambahan penghasilan yang penting bagi masyarakat Sumba Timur. Hal ini disebabkan adanya sistem pertanian yang masih subsistem dan musim yang tak menentu membuat masyarakat tidak bisa mengandalkan hidup dari hasil pertanian. Namun usaha ternak di Sumba Timur bukan tidak lepas dari masalah, terutama kurangnya padang rumput memberikan pakan bagi ternak. Selain musim yang kering yang panjang, dan kebakaran, serangan gulma Chromonela odorata [kirinyu] semakin mendesak habitat rumput liar di padang sabana.

 

Memetakan potensi mencari solusi

 

Ide membudidayakan rumput untuk mengatasi kekurangan pakan ternak di padang sabana sebagai rekomendasi penelitian Fakultas Pertanian UNDANA disambut dingin oleh masyarakat Sumba. Pasalnya mereka selama ini hanya mengenal sistem ternak lepas [overgrassing], selain adanya padangan budaya setempat bahwa pemilik ternak adalah majikan, pantang bagi majikan untuk bekerja menyediakan rumput untuk ternaknya. Padahal manfaat lain dari budidaya rumput ini untuk mencegah tergerusnya unsur hara di lahan pertanian karena aliran permukaan [run off] saat musim hujan, namun warga tetap tak bersungut menghadapi rendahnya produktivitas lahan kering mereka.

 

         Krisis energi tak terkecuali juga melanda hingga pelosok Sumba Timur. Padahal di Kecamatan Karera, beberapa kelompok tani bergantung pada BBM yang harus dibelinya dari Waingapu, Ibukota Sumba Timur yang jaraknya 60-an km dari desa Kecamatan. Handtractor, diesel menganggur karena tak ada solar untuk di beli. Masyarakat lebih intensif menebang pohon di hutan karena adanya permintaan penduduk kota yang beralih ke kayu bakar. Bila tak dicarikan solusinya, hutan bisa habis akibat krisis BBM ini.

 

Program energi terbarukan yang disosialisasikan KEHATI kepada masyarakat setempat diawali mengidentifikasi sumberdaya hayati yang dapat dijadikan sumber energi di desa. Di kecamatan Karera limbah ternak tidak termanfaatkan. Selain itu ada 7 jenis tumbuhan yang berpotensi menghasilkan minyak sebagai bahan bakar. Selain membuat studi penjajagan kebutuhan energi di desa, masyarakat dari kecamatan Karera difasilitasi untuk studi banding ke Boyolali, tepatnya ke kelompok peternak sapi perah yang telah mampu dan menjadi “tukang ahli” membuat biodigester. Hasil studi penjajagan yang difasilitasi oleh Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan Surakarta mencatat hasil sbb:

 

·      Asumsi potensi limbah ternak

o      Ternak di ke lima desa masing-masing menurut jenisnya berjumlah: 1994 sapi, 2532 kerbau, 1306 kuda, 831 kambing, 3407 ayam [diperkirakan jumlah ini lebih besar lagi, karena tabu bagi masyarakat menyebut jumlah sesunguhnya yang dimiliki]

·      Asumsi perhitungan potensi biogas

o      Kerbau dan sapi di Karera 4526 ekor. Seekor ternak menghasilkan kurang lebih 15 kg/hari kotoran. 1 Kg kotoran menghasilkan 40 liter gas. Potensi pemenuhan kebutuhan 4526 x 15 x 40 = 2.715.600 liter gas

o      Bila satu rumah tangga [5 orang keluarga batih] membutuhkan energi 1000 liter, maka berarti potensi itu dapat memenuhi 2.715 KK

·      Asumsi penggunaan kayu bakar

o      Bila 1 pohon = 1000 kg, maka jumlah pohon ditebang = 52760/ 1000 = 52,8 kg/hari atau 774 kg / bulan atau 9.288 kg/ tahun

o      Jumlah Tungku di 5 desa = 2 kali jumlah KK (1319) = 2638 tungku

o      1 KK menghabiskan 10-20 kg/hari, bila jumlah itu diasumsikan 1 setiap KK menggunakan 2 tungku, maka berat kayu = 2638 x 20 kg = 52.760 kg/ hari

 

         Melalui berbagai diskusi pengembangan program, ternyata masyarakat tidak hanya tertarik untuk membuat biodigester dan tungku hemat energi, tetapi menjadi lebih menghargai potensi sumberdaya yang dimiliki bila dapat dikelola dan bermanfaat. Hal itu terbukti ketika masyarakat akhirnya menyadari “kerepotan” menanam rumput dan mengandangkan ternak ternyata juga membawa manfaat bagi penyediaan energi [biogas], pakan ternak dan pupuk kandang. Semula kegiatan yang dianggap sebagai “hambatan budaya”, akhirnya mampu diterima masyarakat sebagai pilihan bersama dalam pengelolaan sumberdaya lokal di desa. Sementara itu pengembangan tungku hemat energi yang diprioritaskan pada masyarakat bukan pemilik ternak juga disadari sebagai upaya untuk lebih menghemat pemakaian kayu bakar.

 

Belajar Bersama Membuat Biodigester 

 

         Pada pertengahan Juni 2006 masyarakat di Desa Nangga berhasil menyelesaikan pembangunan satu unit biodigester. Menggunakan pendekatan belajar bersama, LPTP Surakarta dan Yayasan Alam Lestari sebagai pendamping masyarakat membuat semacam praktek dan melatih wakil-wakil masyarakat dari 3 desa di Kecamatan Karera sebagai calon “tukang ahli” pembuat biodigester dibantu seorang warga Boyolali yang sudah terampil. Satu unit biodigetser beserta instalasinya berhasil dirampungkan termasuk kandang ternak berlantai yang pertama di Sumba.

 

         Praktek membuat tungku hemat energi mendapat sambutan masyarakat luas. Delapan unit tungku hemat kayu bakar berbahan bata dan semen berhasil diselesaikan di desa Nangga, Janggamangu, Praimadita, Ngongi dan Tandulajangga. Sebagian dana pembuatan tungku merupakan swadaya masyarakat. Sayangnya peran community organiser dan pendamping lapang lapang kurang optimal berperan mengerahkan masyarakat dalam pelatihan 20 hari itu, sehingga pendekatan belajar bersama yang diharapkan dapat menghadirkan lebih banyak warga desa tidak tercapai.

 

Sekali mendayung dua tiga manfaat didapat

 

         Pembuatan biodigester sebagai antisipasi atas kebutuhan energi di desa ternyata mampu menjadi entrypoint bagi program konservasi lahan kering lainnya. Budidaya rumput selain mampu mendorong praktek pengelolaan ternak lepas menjadi semi intensif, juga mampu memenuhi sediaan pakan ternak segar di musim kemarau. Sebaliknya di musim hujan, rumput yang ditanam dekat pekarangan mampu menghambat terjadinya erosi permukaan yang melarikan lapisan humus di lahan kering. Pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas selain menghasilkan energi, juga menghasilkan slurry hasil samping biogas yaitu pupuk kandang yang sudah terdekomposisi dan dapat digunakan langsung untuk penyubur lahan. Paket Konservasi Lahan Kering “Three in One “ ini bisa jadi model pengelolaah lahan kering yang berkelanjutan [*]

 

 

 

 

 

 

Riset Berbasis Masyarakat di P. Semau, Kupang dan Bintuni, Manokwari : Benarkah Dapat Dilakukan dan Bermanfaat Bagi Masyarakat?

 

Bukan rahasia lagi adanya ungkapan hasil riset cuma jadi laporan penelitian belaka atau bahan membuat proposal pendanaan untuk penelitian berikutnya. Dengan kata lain sekian banyak penelitian yang dilakukan oleh berbagai institusi ternyata tidak untuk tujuan memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Walaupun hal ini dapat saja diperdebatkan namun KEHATI belajar untuk tidak salah melangkah dalam melakukan penelitian atau bekerjasama dengan para peneliti. Karenanya KEHATI sengaja memilih penelitian terapan yang hasilnya sedapat mungkin untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

 

Banyak rekomendasi penelitian yang seharusnya dapat dikembalikan bagi kepentingan masyarakat, namun terkadang tujuan penelitian adalah untuk melakukan penelitian saja, soal hasilnya silahkan saja bagi siapa yang tertarik dapat melakukan aplikasinya. Hal seperti itu yang coba dihindari oleh KEHATI dengan melakukan pendekatan penelitian berbasis masyarakat atau riset partisipatif.

 

Meski sudah banyak lembaga yang melakukan jenis riset partisipatif ini, namun kerangka penelitian berbasis masyarkaat yang dikembangkan KEHATI di wilayah DAS Kaitero, Kecamatan Babo, Teluk Bintuni Manokwari dan  Pulau Semau, Kupang NTT menggabungkan beberapa pendekatan. Skema riset partisipati disatu sisi karena melibatkan masyarakat , civitas akademika dan LSM , disisi lain bertujuan untuk mempromosikan riset terapan di kalangan mahasiswa dan dosen pembimbing, sehingga Perguruan Tinggi lebih mempertajam perannya pada penelitian yang dapat membawa manfaat langsung pada masyarakat selain mencetak mahasiswa yang peduli dengan problem masyarakat. Apa kelebihan pendekatan ini?

 

Masyarakat merupakan nara sumber yang valid atas permasalahan yang dihadapi, sekaligus dari merekalah identifikasi permasalahan dianalisis melalui diskusi terfokus [focus group disccusion] yang melibatkan masyarakat, peneliti umumnya diwakili pihak perguruan tinggi dan LSM yang mengkoordinir pelaksanaan tsb.

 

FGD menghasilkan topik atau tema penelitian yang diharapkan dapat memberikan informasi pada permasalahan yang dihadapi masyarakat. Hasil ini kemudian digodok oleh sebuah Tim yang beranggotakan dosen peneliti, dan tokoh masyarakat. Bahkan anggota Tim dan wakil masyarakat akan duduk menjadi Tim penelaahan proposal penelitian.

 

Hasil topik riset prioritas di sosialisasikan di kalangan kampus untuk menarik mahasiswa terlibat dalam penelitian ini. Proposal mahasiswa akan diseleksi oleh Tim Penelaah. Proposal penelitian yang terpilih akan difasilitasi dari segi transportasi, biaya penelitian, akomodasi di lapangan termasuk bertemu dengan masyarakat yang mengusulkan “masalah”nya untuk di teliti atau dicarikan solusinya

 

Hasil penelitian akan didiskusikan oleh tim penelaahan plus wakil masyarakat, sehingga bukan saja menjadi data ilmiah tetapi juga menjadi informasi yang wajib disosialisasikan kepada masyarakat. Hasil penelitian akan digunakan masyarakat untruk membuat perencanaan program.

 

Pada pengembangan inisiasi program di DAS Kaitero, Teluk Bintuni dan P. Semau, Kupang, KEHATI bersama mitranya Perkumpulan PERDU Manokwari dan Yayasan Pandu Lestari menerapkan pola ini, dan mendapatkan dukungan dari Universitas Papua [UNIPA], Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Manokwari dan Universitas Nusa Cendana [UNDANA] Kupang. Antusias kalangan kampus pun sangat tinggi, di Manokwari misalnya saat sosialisasi dilakukan dihadiri lebih dari 100 mahasiswa, sementara di UNDANA Kupang dihadiri lebih dari 50 mahasiswa. Demikian pula Dosen-dosen universitas bersemangat menyusun Tim Penelaah usulan penelitian dan mampu melakukan identifikasi masalah dan potensi melalui FGD bersama masyarakat, lalu menyusunnya dalam topik riset prioritas. Tim inilah yang akan menyeleksi proposal dari para mahasiswa yang mengajukan usulan. Proposal penelitian terbaik yang akan dipilih tim penelaah.

 

Kunci keberhasilan dari program penelitian berbasis masyarakat ini adalah kerjasama antara LSM, Perguruan Tinggi [dosen dan mahasiswa] dan masyarakat. Peran Perguruan Tinggi dengan dukungan ilmu pengetahuan, tenaga berpendidikan dan mahasiswa melakukan penelitian dan mengkaji hasil riset. Masyarakat menjadi nara sumber dan turut mendukung penelitian yang dilakukan di lingkungannya dan LSM yang mengkoordinasikan semua aktivitas dan menjadi pendamping kelompok masyarakat akan memperoleh data dan informasi yang cukup untuk melakukan pengembangan program dan pengorganisasian bersama masyarakat.

 

Sementara ini dari hasil identifikasi Tim Penelaah dan masyarakat yang dilakukan di Das Kaitero diprioritaskan untuk mengetahui  ketersediaan bahan pangan lokal. Sedangkan di P. Semau berkenaan dengan masalah pertanian dan rusaknya ekosistem pertanian. Namun bukan itu saja, identifikasi di kedua lokasi juga menunjukkan kebutuhan informasi masyarakat setempat. Di Das Kaitero misalnya masyarakat tertarik mengetahui budidaya kepiting dan pengelolaan hutan Bakau. Sementara itu di P. Semau masyarakat tertarik mengembangkan pola usaha tani berkelanjutan, pengelolaan air dan energi dari  bahan nabati seperti tanaman jarak yang banyak tumbuh liar di kawasan itu.

 

Hasil akhir penelitian ini akan dikaji bersama antara LSM pendamping, Tim Penelaah dan wakil masyarakat untuk disosialisasikan kepada masyarakat. Mahasiswanya sendiri selain dapat menyusun skripsi sebagai tugas akhirnya juga akan mendapat bekal berupa pengalaman mengasah ilmu dan bekerja pada masyarakat sesuai bidang yang ditekuninya. LSM dan masyarakat pun akan mendapatkan informasi yang cukup untuk melakukan perencanaan ataupun melakukan berbagai aksi kegiatan di lapangan. Tantangan dari riset berbasis masyarakat ini adalah keberanian “orang kampus” keluar dari aspek teoritis dan melakukan riset dan kajian yang lebih membumi dan sesuai fakta yang ada di lapangan dan masalah yang dihadapi masyarakat tanpa kehilangan aspek ilmiahnya.

 

Inisiatif yang didapat dari proses itu kelak akan menjadi bahan belajar bersama masyarakat. Peran LSM pendamping pada fase ini adalah menciptakan media dan wadah belajar agar proses belajar dan praktek lapangan berlangsung efisien. Wadah belajar masyarakat ini nantinya yang akan menjadi pusat pemberdayaan masyarakat untuk belajar tentang topik tertentu yang berkenaan dengan hasil penelitian tadi. Dengan pola seperti itu, kolaborasi LSM, Perguruan Tinggi dan Komunitas masyarakat akar rumput ini seharusnya mampu menjadi kekuatan pembangunan di daerah.[*]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Republik Ricinus Communis

 

 

Ada negara komunis baru ? Ah bukan, itu hanya nama rekaan saja yang saya berikan pada Pulau Semau di ujung teluk Kupang. Pulau Semau seolah menyempal itu adalah bagian dari ibukota provinsi NTT karena letaknya yang sangat dekat dengan Pelabuhan Tenau di Kupang. Pulau Semau nyaris tak tersentuh denyut pembangunan di Kupang, seolah seperti sebuah “negera” tersendiri.

 

Datanglah ke Pulau Semau di ujung teluk Kupang. Berlabuh dengan perahu bermotor hanya butuh 45 menit saja. Dari Tenau dapat dilihat sebaris pulau tertutup tajuk hijau pepohonan hutan. Tapi bagi saya pulau itu seperti menyimpan misteri karena nampak tidak berpenghuni dari kejauhan atau seperti pulau yang tertidur, tidak terlihat kehidupan, juga gerak pembangunan.

 

Benar saja, begitu mendekat pulau, perahu yang saya tumpangi menuju pantai berkarang yang menjorok mendekati daratan. Tidak ada jembatan penambat perahu, tidak ada tangga. Sulit rasanya percaya bahwa di seberangnya terdapat pelabuhan dan dermaga besar Tenau.

 

Memasuki Pulau Semau, terpaksa berkendara motor. Banyak jasa pengojek motor, tapi kami bawa motor dari Kupang dalam perahu. Karena tak ada jembatan, maka jasa pengangkut sepeda motor pun terpaksa dipesan. Tak ada jalan beraspal, jalan utama di pulau ini adalah tanah yang dikeraskan. Sepanjang jalan di kiri dan kanan terdapat kebun-kebun penduduk dengan rumah-rumah yang berjauhan.

 

Memasuki jantung kota kecamatan, saya jumpai berjuta-juta tumbuhan jarak Ricinus Communis tumbuh liar menyesaki lapangan dan tanah-tanah tak tergarap. Alangkah kaya pulau Semau bila saja dapat memanfaatkan biji Ricinus communis penghasil castor oil alias minyak pelumas mesin kendaraan bermotor. Seorang kolega dari Jepang yang turut dalam perjalanan tercengang melihat kelimpahan Ricinus Communis tak termanfaatkan. Karenanya saya menamakan pulau ini RRC alias Republik Ricinus Communis.

                                                               Gbr. Ricinus communis

Selain itu, jarak pagar [Jatropa curcas] juga ada di dekat pekarangan penduduk, walaupun nampaknya tidak sebanyak jarak Ricinus. Lontar, gebang, padi dan tumbuhan hutan nampak sebagai latar di jalan utama maupun jalan-jalan menuju desa. Sehingga rasanya kita sedang berjalan di tengah hutan atau di dalam areal Taman Nasional. Kebun jagung dan sawah tadah hujan juga saya temukan di ladang milik penduduk. Beberapa hasil kebun seperti semangka, bonteng [sejenis timun lokal yang agak bulat] merupakan sumber nabati lain yang dipungut penduduk.

 

Semau hanya memiliki satu kecamatan. Ada rencana pengembangan kecamatan yaitu Semau Selatan yang akan membawahi 6 dari 14 desa yang tadinya berada dalam satu kecamatan lama. Di Semau ada 12 SD, 3 SMP dan hanya 1 SMA.  Lahan sebagian besar di dominasi oleh lahan dengan bentang lahan relatif datar sampai bergelompang dengan kemiringan 10-20%.  Tanah didmoninasi oleh jenis Litosol dengan tingkat kejenuhan basa sedang sampai tinggi. Kadungan liat tanah terbatas terutama jenis liat kaolinit sehingga mempengaruhi kemampuan ikat unsure hara dan dampaknya unsusr hara yang dibutuhkan tanaman pertanian menjadi kurang tersedia. Sebagian lahan didominasi lahan kering yang dijadikan tempat budidaya dengan diversifikasi rendah.

 

Kawasan budidaya teridiri dari perladangan, tegalan, kolam dan perhutanan rakyat. Budidaya rumput laut juga ditemukan di beberapa desa yang dekat dengan pantai. Pola budidaya tersebut sebenarnya tidak terpisah secara tegas melainkan merupakan suatu perpaduan kecuali sawah. Bahkan sawah sekalipun pada  musim kemarau dimanfaatkan sebagai tegalan untuk bertanam palawija.

 

Kunjungan ke pulau Semau kali ini untuk mendiskusikan hasil studi penjajagan pengelolaan sumber daya alam bersama wakil masyarakat dan perangkat desa dari Desa Akle, Oiboa, dan Uithiuhana. Hasil studi berupa identifikasi masalah disampaikan kepada wakil masyarakat untuk mendapatkan tanggapan. Sebelumnya Tim UNDANA Kupang telah melalukan studi penjajagan dan diskusi dengan masyarakat di ke tiga desa itu. Dalam diskusi didapatkan informasi bahwa persoalan utama mereka adalah kurang pengetahuan dan informasi dalam pengelolaan sumber daya alam khususnya pertanian dan rendahnya produktifitas lahan serta sulitnya akses ekonomi.

 

Tim UNDANA dan Yayasan KEHATI berupaya menjawab persoalan itu dengan menawarkan program “Belajar Bersama Masyarakat”, agar ada transfer pengetahuan khususnya pertanian dalam menunjang kehidupan masyarakat. Penelitian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat akan diupayakan melibatkan mahasiswa dan peneliti UNDANA. Selain diharapkan meningkatkan kontribusi civitas akademika dalam pembangunan di Semau juga memberi kesempatan mahasiswa terlibat penelitian bersama masyarakat. Materi hasil penelitian akan diterjemahkan sebagai bahan belajar bersama masyarakat.

 

Harapan bahwa Pulau Semau mempunyai Pusat Informasi dan Belajar bagi masyarakatnya bukanlah hal yang muluk. Keinginan kuat masyarakat sebagai pemilik kekayaan sumber daya hayati dan komunitas ‘terpelajar” yang mau turun desa berbagai ilmu adalah modal utama. Akankah sinergi itu menjadi jembatan pembangunan Pulau Semau dan Kupang ibukota provinsi NTT itu? Tentu republik tercinta ini menanti buktinya.[*]


Di Kei Kecil, Kita Menaruh Harapan Besar

 

 

Kepulauan Kei di Maluku Tenggara terdiri dari pulau Kei Besar, Kepulauan Kei Kecil, termasuk pulau Dullah dan Dullah laut atau Duroa. Dari udara kepulauan itu tampak seperti untaian surga hijau di archipelago dengan garis pantai berwarna hijau, biru dan biru tua menandakan gugusan terumbu karang yang menghampar di bawahnya. Sementara di pulau-pulaunya hutan hijau dan gerombol nyiur menawan hati. Tapi jangan kaget bila di Dullah laut atau Duroa, dikenal sebagai kampung komunitas nelayan yang masih menggunakan bom dan sianida untuk mendapatkan ikan.

 

Pemakaian bom dan sianida di Duroa itu cukup mencemaskan mengingat pulau Duroa sebenarnya dikelilingi terumbu karang tempat tinggal ikan yang menjadi satu bagian dari keberadaan pulau-pulau yang lebih kecil di sekitar Duroa. Ada delapan pulau tak berpenghuni di sekitar Duroa. Semua orang di Tual mahfum, Duroa adalah dapurnya ikan Kabupaten Maluku Tenggara. Tidak mengherankan bila di ujung pulau Dulla, persis berhadapan dengan Pulau Duroa terdapat perusahaan pengalengan ikan terbesar di Asia Tenggara. Menurut nelayan di pulau Duroa penggunaan bom dan sianida dipicu oleh keberadaan perusahaan tangkap ikan yang marak beroperasi di perairan itu. Tingginya harag yang ditawarkan untuk ikan segar [hidup] mendorong nelayan meracun ikan hingga ikan mabuk, kemudian dijual dalam keadaan hidup-hidup.

 

Kei seperti halnya pulau lain Maluku dikenal dengan tradisi perlindungan terhadap sumberdaya pesisir laut yang disebut sasi atau diterjemahkan bebas sebagai larangan. Orang Duroa sendiri menyebutnya hawear yaitu upaya melindungi jenis biota laut tertrntu hingga saatnya layak di panen. di Duroa, selain lembaga adat yang mempunyai kewenangan terhadap pemberlakukan sasi, gereja secara aktif juga mengusulkan larangan pengambilan sesuatu jenis [hasil laut atau kebun] sampai masa dicabutnya larangan tersebut atau “buka sasi”.

 

Secara umum Sasi atau hawear di Kepulauan Kei masih ada dan berlaku, tetapi keberadaannya bagai matisuri karena tidak dihiraukan oleh berbagai aturan dan hukum yang ada. Celakanya, perusahan penangkapan ikan yang memiliki ijin usaha dari Pemda sering mengambil ikan di wilayah kelola tradisional, bahkan pada saat diberlakukan “tutup sasi”. Lebih parah lagi orang dari kampung pun ikut-ikutan memanen ikan dengan cara penangkapan yang tidak lestari. Sasi atau hawear terdesak oleh kepentingan ekonomi yang lebih besar. “Terkadang masyarakat desa dibuat kaget karena ijin pengambilan tersebut ada d ilokasi tutup sasi” kata Jhon Bosco dari Yayasan Hivlak. Tutup sasi dimaksudkan agar sementara waktu pengambilan jenis-jenis ikan atau buah-buahan tertentu tidak dilakukan untuk kepentingan regenerasi. Bila terjadi pelanggaran atas teritori sasi yang dilakukan oleh orang luar [bukan warga dari wilayah diberlakukannya sasi ]  komunitas nelayan dan pimpinan adat  tak bisa berbuat apa-apa.

 

Praktek-praktek seperti itu mendorong desa-desa di Kei Kecil untuk melindungi hak petuanannya [tanah ulayat] dengan memberlakukan sasi secara serius. Upaya itu dilakukan Yayasan Hivlak dan KEHATI dalam kerjasamanya menggarap sebuah program radio yang dirancang untuk mengajak komunitas nelayan berdialog dan menceritakan berita-berita dari kampung. Komunitas nelayan yang masih memegang teguh praktek sasi dipertemukan dengan komunitas nelayan Duroa yang terkenal eksploitatif sehingga terjadi diskusi yang hangat di kalangan mereka.

 

Pada kesempatan lain, diundang pula pakar kelautan dari LIPI, pemerhati lingkungan dan praktisi konservasi seperti WWF yang berbasis di Tual, untuk menjelaskan dampak kerusakan laut dari penggunaan bom dan sianida dan alternatif pengelolaan yang lebih lestari. Direncanakan pula narasumber dari Kepolisian, Kejaksaan, Angkatan Laut [LANAL TUAL] dan LANUD untuk berbagai cerita seputar pelanggaran dalam prosedur penangkapan ikan  di wilayah perairan Maluku Tenggara.

 

Sharing di udara ini didengar oleh masyarakat luas, mengingat siaran dialog interaktif ini diudarakan dua kali sebulan oleh satu-satunya radio swasta Gelora Tavlul di Tual. Tidak diduga pertemuan “di udara” pun berlanjut di darat.  Pertemuan antar kampung yakni masyarakat dari desa Rumadian, Sathean di Pulau Kei Kecil ikut berdiskusi dengan rekan-rekan dari Pulau Duroa dan mendorong mereka untuk kembali menerapkan Sasi dan meninggalkan kebiasaan mengebom dan meracun ikan di laut.

 

Pertemuan-pertemuan selanjutnya digelar  sehingga seluruh masyarakat dari desa-desa itu mencanangkan untuk memproklamirkan pemberlakukan sasi. Bahkan pejabat di desa pun menginginkan agar sasi, aturan adat dari leluhur itu dimuat dalam Peraturan Desa [PERDES]. Pak Yohanes, Kepala Desa dan Pak Teddy Kepala Dusun dari Pulau Doroa adalah yang termasuk mendukung upaya itu. Mereka bahkan menetapkan larangan pengambilan kelapa dalam waktu dekat ini. “Kami tinggal mengundang tetua-tetua adat saja untuk menetapkan sasi kelapa ini di desa, sebagai perangkat desa kami memfasilitasi saja” ujar Pak Teddy. Sebelum diberlakukan “tutup sasi kelapa”, warga desa dibiarkan memanen kelapa secukupnya untuk kebutuhannya.

 

Sejak pertemuan itu, berbagai langkah strategis disusun dan banyak rencana tindaklanjut mempertemukan warga desa untuk mendiskusikan rencana menuliskan sasi atau hawear ke dalam PERDES. Bila PERDES tersusun, teman-teman di Hivlak pun berinisiatif untuk menuangkan PERDES dalam peraturan daerah [PERDA] agar praktek tradisional pengelolaan SDA mendapat perlindungan hukum dan diakui keberadaannya. “Ini mimpi kita bang !” kata Yos dari Hivlak dengan yakin.

 

Mungkin mimpi Yos itu bukan mimpinya sendiri. Mungkin komunitas nelayan di Maluku Tenggara punya mimpi yang sama untuk menjaga wilayah petuanannya dihormati semua pihak.   Mungkin kita juga punya mimpi yang sama. Ya,.. di Kei Kecil kita berharap besar pada mimpi itu. [*]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About me

Rio R. Bunet
Penyuka jalan-jalan, naik kereta dan sepeda pancal, bertaman dan berkebun... dan meneropong benda langit..