Rio Bunet

My online blog

Cerita Dari Timur

[sumba, kupang, kei, bintuni]

 

Kumpulan tulisan ini dibuat dari pengalaman penulis berinteraksi dengan teman-teman di Sumba, Kupang - Nusa Tenggara Timur,  Kei - Maluku Tenggara dan Bintuni, Papua.  Mereka adalah partner kerja di wilayah Timur Indonesia termasuk masyarakat di 5 desa di Kecamatan Karera, masyarakat desa Oiboa, Akle, Uithiuana Pulau Semau-Kupang, masyarakat P. Duroa Kei Kecil, masyarakat desa Tugrama 1-2, Warganusa 1-2, dan Sara di DAS Kaitero, Bintuni. Semua artikel merupakan hasil liputan , laporan kerja yang selama penulis mengelola program konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan periode 2004 hingga 2007.

 

  • Rumput dan Gulma Juga Biodiversitas
  • Padang Rumput Sumba Riwayatmu Kini
  • Brownies van Nangga
  • Konsep “three in one” Konservasi Lahan Kering di Sumba
  • Riset Berbasis Masyarakat di Semau dan Bintuni
  • Republik Ricinus Communis
  • Di Kei Kecil Kita Menaruh Harapan Besar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rumput dan Gulma juga Biodiversitas

 

Bila Seriues Band dari Bandung punya lagu Rocker Juga Manusia, yang berusaha menempatkan profesi rocker pada kemanusiaannya, maka tidaklah berlebihan bila saya ingin menempatkan rumput dan gulma sebagai anggota biodiversitas atau keanekaragaman hayati yang sama pentingnya dengan species lainnya.

 

Gulma adalah tumbuhan pengganggu yang kehadirannya tidak dikehendaki pada suatu area atau pada lokasi tanaman lain tumbuh. Rumput seringkali juga dianggap gulma bila ia tumbuh dilahan pertanian tempat tanaman dipelihara. Yang jelas gulma bukan hanya rumput, dan yang lebih pasti lagi rumput bukan cuma melulu dianggap gulma melainkan juga memiliki nilai dan kegunaan.

 

Rumput dan Gulma di Sumba menjadi perhatian penting sejak beberapa tahun terakhir. Rumput di padang savana di Sumba adalah padang rumput terluas bagi usaha peternakan lokal. Di Sumba Timur saja ada 100.600 ekor ternak sapi, kuda, kerbau yang bergantung pada padang rumput yang luasnya mencapai 70%  dari 7.000,5 km2 luas kabupaten itu [Kompas, 17/10/05]

 

Persaingan gulma chromolena odorata itu dan rumput telah menjadi perhatian sekaligus krisis ekologi di Sumba. Orang Sumba kebanyakan percaya bahwa chromonela odorata itu datang dibawa belalang kembara (locus migratoria sp) melalui kotoran belalang itu. Karenanya disebut tai kabala [tai belalang]. Apapun penyebabnya jenis cromoleana odorata memang termasuk invasif species, yang mempu menyebar, berbiak dan bertahan bahkan mengganggu populasi padang rumput. Rumput yang merupakan emas buat peternak sumba, benar-benar terdesak. Belum lagi kemarau panjang, menyebabkan bibit rumput muda terlambat tumbuh sehingga kelangkaan pakan ternak menjadi ancaman serius bagi pendapatan Pulau Sumba.

 

Berbagai macam cara dicoba. Melalui programnya sebuah lembaga donor asing di Sumba pernah memusnahkan chronela odorata dengan menyemprot herbisida untuk membersihkan gulma. Namun karena areal yang sangat luas upaya itu pun tidak efektif, gulma tersebut terus tumbuh dan tidak jarang rumput ikut mati terkontaminasi herbisida itu. Meracun belalang kembara si pembawa gulma itu juga pernah dicoba, tapi anjing dan ternak lain yang memakan belalang ikut teracuni.

 

Ada cerita dari Kecamatan Karera Sumba Timur tentang rumput dan gulma itu. Setelah kewalahan mengatasi chromonela odorata, maka timbul keinginan untuk mengetahui bagaimana gulma itu mampu bertahan di lahan kering dan tandus. Dibantu peneliti senior dari UNDANA, Dr. Prijo memaparkan hasil temuan lapangannya.

 

Sistem perakaran chromolaena odorata bercabang banyak dan adventif sehingga mampu menyerap unsur N yang terikat kuat dalam tanah. Permukaan bawah daun yang halus dan muka atas yang kasar memungkinkan tumbuhan ini menyimpan air dan embun di musim kemarau. Kemampuan lainnya adalah dalam berfotosintesa dan bertranspirasi sangat efektif sehingga memungkinkan mengalirkan hara dalam tanah dan menyerapnya hingga tersimpang di daun dan bagian hijau lainnya. Bijinya yang halus mudah diterbangkan angin dan mampu menyebar dan tumbuh ditempat yang jauh sekalipun.

 

Penelitian Chromolaena odorata itu juga dilengkapi uji laboratorium kandungan hara jaringan. Melalui hasil penelitian inilah rekomendasi penggunaan gulma itu sebagai pupuk hayati disampaikan kepada masyarakat.

 

Komposisi Kandungan Unsur Hara Jaringan Kirinyu (Chromolaena odorata)

 

 

Bagian Tumbuhan

Komposisi kandungan unsur hara ( % )

N

P

K

Ca

Mg

Na

Daun

5,24

0,84

2,,89

3,19

0,71

0,01

Batang

1,076

0,27

1,65

0,32

0,15

0,01

Akar

0,78

0,11

0,87

3,21

0,12

0,01

Sumber: Soetedjo, 2004

 

Pemanfaatan gulma Chromolaena odorata sebagai pupuk organik yang kaya nitrogen segera menjadi demam baru di kalangan petani Kecamatan Karera. Mereka tidak lagi ‘memeranginya tetapi memanfaatkannya sebagai pupuk hayati. Sebuah percobaan dilahan pertanian milik kepala desa Nangga menunjukkan penggunaan Chromolaena odorata berhasil memacu pertumbuhan vegetatif anakan padi. Namun dosis tepat untuk memperbanyak pertumbuhan bulir bulir padi masih memerlukan ujicoba lapangan yang intensif.

 

Banyaknya pemanfaatan Chromolaena odorata sebagai pupuk hayati oleh masyarakat tidak serta merta menyebabkan pertumbuhan rumput segera pulih. Dibutuhkan upaya ekstra untuk mengembangkan bibit rumput baru yang mampu menyebarkan benih dan terjamin pertumbuhannya dimusim kemarau.

 

Salah satu penelitian yang dilakukan masyarakat bersama LSM lokal Yayasan Alam Lestari dan UNDANA adalah membudidayakan rumput dari jenis baru dan rumput lokal untuk menjamin terjadi penyebarluasan biji rumput ke padang gembala. Jenis rumput yang dibudidayakan selain untuk pakan ternak yang akan dinilai kandungan gizinya [disukai ternak] juga akan diteliti jenis rumput yang cocok untuk konservasi lahan kering agar hara tanah tidak mudah terlindi.

 

Jenis rumput yang dibudidaya ada beberapa jenis yaitu :  Brachiria mexicana, Brachiria Mutica, Rumput Benggala dan Rumput Setaria  merupakan jenis rumput introduksi sedangkan Kahirik dan Mapu adalah jenis rumput lokal Sumba.

 

 

 

 

 

Gambar Rumput Brachiria Mexicana

Gambar Rumput  Brachiria Mutica

Gambar  Rumput  Setaria

 

 

 

 

Gambar  Rumput  Benggala

Gambar  Rumput  Kahirik

Gambar . Rumput  Mapu

 

 

Boleh jadi budidaya rumput adalah yang pertama kali dilakukan di Sumba Timur. Tidak jarang orang heran dengan upaya itu, apalagi lokasi penanamannya dijaga ketat agar selamat dari ternak yang berkeliaran, sesuatu yang tidak lazim di Sumba!  Pada usia 8 minggu panen pertama sudah dilakukan untuk ujicoba jenis rumput yang disukai sapi. Masyarakat langsung yang diminta menilai tingkah laku sapi dalam mengkonsumsi jenis-jenis rumput tadi.

 

Penelitian terhadap gulma dan rumput dilakukan untuk menjawab krisis ekologi yang dihadapi masyarakat Sumba Timur.  Bila penelitian terapan seperti itu tidak pernah dilakukan, mungkin nasib gulma dan rumput-rumputan kita tetap saja diabaikan. Akan tetapi setelah diketahui manfaatnya, semua akan berkata rumput dan gulma juga berguna.[*]


Padang Rumput Sumba, Riwayatmu kini….

 

 

Sejak dulu, padang rumput Sumba telah dikenal sebagai tempat terbaik memelihara kuda. Kuda sumba adalah juga bagian dari padang rumput menghijau yang mengalir sungai dari hutan-hutannya, seperti pepatah tua Sumba “Padanjara hamu, Matawai amahu” yang masyhur hingga kini. Pepatah tua itupun tertera pada lambang pemerintahan Sumba Timur yang bergambar kuda di depan rumah tradisional Sumba seolah memperkuat identitas Kabupaten itu.

 

Namun siapa sangka, simbol itu kini justru tidak menggambarkan kondisi yang sesungguhnya.Rumput padang sabana yang luas menghias bukit-bukit berkarang di Sumba, tidak lagi menjadi pakan ternak terbaik. Kuda gagah justru banyak ditemui di Kota Waingapu, karena pemiliknya mampu menyediakan rumput untuk kuda kesayangannya itu. Sementara kuda-kuda liar di hamparan padang rumput, terus menurun bobotnya,begitu juga ternak lainnya. Rumput padang sabana, tidak subur lagi.

 

Kemasyuran Sumba sebagai penghasil ternak terus merosot, padahal kuda diperdagangkan sebagai alat transportasi ke luar Sumba sejak 1840 (J de Roo). Populasi kuda terganggu karena wabah penyakit hewan dan hama perusak rumput melanda pada sekitar 1940. Sebelum perang dunia II hampir setiap bulan Sumba Timur berhasil menjual sapi, kuda dan kerbau rata-rata 1.500 ekor. Puncak merosotnya ternak terjadi pada 1999- 2002, dimana perdagangan ternak dari Sumba ke Surabaya dan Jakarta turun hampir separuhnya (Dhakidae, 2003)

 

         Namun begitu, hewan ternak terutama kuda merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tradisi masyarakat Sumba, khususnya untuk upacara perkawinan dan kematian, jumlah ternak yang dipersembahkan menjadi ukuran penghormatan terhadap tradisi para leluhur. Hanya saja cara berternaknya masih tradisional, dilepas di alam bebas, dan pakannya tergantung pada musim hujan. Hal itu mengandung resiko ketidakcukupan rumput segar sebagai pakan, sehingga bobot ternak menurun, tingkat reproduksi dan ketahanan tubuh merosot dan kematian tak terkendali.

 

Riwayat padang rumput itu kini menjadi ancaman serius bagi masyarakat Sumba. Bukan saja karena kualitas ternak menurun, tetapi ternak yang kelaparan itu menghabiskan apa saja yang ditanam petani di kebun, termasuk atap jerami rumah milik masyarakat. Peristiwa itu telah menjadi masalah sosial tersendiri di Kecamatan Karera Sumba Timur.

 

Keprihatinan itu telah mendorong masyarakat Desa Nangga dan desa di sekitarnya untuk membuat aturan pengelolaan sumberdaya yang dapat mengakomodir kepentingan usaha ternak maupun bertani di kebun. Salah satunya adalah memulihkan padang rumput. 

 

Difasilitasi oleh Yayasan Alam Lestari dan Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana, Kupang,masyarakat kecamatan Karera, Sumba Timur melakukan penelitian jenis rumput-rumputan. Melalui penelitian dan budidaya rumput itu diharapkan dapat menemukan jenis rumput sebagai alternatif pakan ternak dan sekaligus menjadi penahan erosi untuk konservasi lahan kering.

 

Penanaman beberapa jenis rumput dilakukan di Desa Nangga, memilih jenis-jenis introduksi seperti rumput Brachiaria mutica, Setaria sphacelata, Euchlaena mexicana,   jenis rumput yang dianjurkan seperti rumput benggala (Panicum maximum), dan rumput lokal Mapu (Andropogon plumosus) dan Kahirik (Andropogon pertusus)yang dikambil di wilayah Kabahu Sumba Timur. Rumput-rumput itu ditanam dalam petak uji tanam.

 

Hasil pemilihan rumput tersebut merupakan kerjasama dengan pihak-pihak seperti Dinas Peternakan Kupang, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Naibonat, Balai Penelitian ternak di Grati Pasuruan,  Balai Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak di Kupang. Untuk membantu penelitian lapang uji tanam rumput itu, seorang mahasiswa UNDANA diterjunkan langsung melakukan budidaya dibantu masyarakat.

 

Untuk menemukan jenis rumput yang mampu menjadi bahan konservasi lahan, tanah sebelum ditanami diuji sifat fisik dan kimia tanahnya.  Sedangkan untuk menemukan jenis rumput pakan ternak yang dapat meningkatkan kualitas ternak, jaringan rumput diuji dan pertambahan berat ternak sesuai jenis rumput yang diberikan akan menjadi indikatornya.

 

Penyebaran rumput tidaklah sulit karena  tanaman itu hanya memerlukan angin dalam penyebarannya. Selain itu tujuan penanaman rumput itu adalah untuk memusatkan pertumbuhan rumput yang diharapkan akan merubah prilaku beternak lepas (overgrassing) menjadi sistem ternak semi intensif, dimana ternak tidak dilepas bebas, tetapi dikandangkan pada daerah yang cukup terdapat rumput.

 

 Keuntungan dari sistem semi intensif itu adalah penumpukan kotoran ternah pada lokasi bekas kandang dapat  meningkatkan hara tanah untuk budidaya pertanian. Sistem itu dapat dilakukan dengan rotasi 1 – 2 tahun sekali

 

Akankah penelitian itu dapat menjadi langkah penting bagi upaya pemulihan padang rumput di Sumba Timur ? Semuanya terpulang pada komitmen dari pihak-pihak yang telah memulainya. Setidaknya sebuah upaya bersama antara masyarakat, LSM dan Perguruan Tinggi untuk menggali potensi rumput-rumputan sebagai salah satu kekayaan hayati di negeri sabana itu telah dimulai. Jawabannya tentu tidak ada pada rumput yang bergoyang…..[*]


Brownies van Nangga

 

 

Siapa tidak kenal brownies? Kita pasti tergoda dengan kelezatannya. Orangkota pasti mengenalnya. Konon brownies awalnya dianggap cake gosong, tetapi warna coklat-hitamnya justru kemudian membuatnya terkenal dan mendunia. Bahkan disebagian komunitas masyarakat kota telah menjadi gaya hidup, mulai kue ulangtahun, kue persembahan hari kasih sayang “valentine”. Dikukus atau di oven tetap disuka. Ibu-ibu rumahtangga sampai selebritis pun mencoba peruntungan buka usaha brownies. Walau cuma tepung dan coklat jadi bahan utamanya, tapi yang ditawarkan  adalah life style!

 

Lalu, ada apa dengan brownies dari Desa Nangga, Sumba Timur? Sudahkah gaya hidup kota menular ke Desa di Kecamatan Karera itu? Jawabannya tidak!, tapi lebih dari itu. Sepotong brownies, yang dihidangkan pada pertemuan desa kali awal Februari 2006 adalah titik awal kebangkitan masyarakat untuk peduli umbi-umbian lokal. Brownies dari Nangga itu terbuat dari bahan tepung umbi gadung [Dioscorea hispidia atau iwi dalam bahasa Sumba]. Suguhan brownies juga jadi tanda matinya stigma lama, makan umbi identik dengan kemiskinan yang kemudian dijadikan indikator keluarga miskin bagi yang mengkonsumsinya.  

 

Suguhan brownies bertabur kacang juga merupakan kebangkitan bagi kelompok perempuan, yang kali ini menghadiri pertemuan perencanaan tahunan program di desa Nangga. Selain mencicipi brownies umbi gadung, ibu-ibu yang datang ke pertemuan juga penasaran ingin tahu cara membuatnya. Maka tawaran praktek mengolah umbi-umbian disambut antusias oleh peserta.  Sepuluh perempuan yang hadir saat itu langsung mendaftar ikut pelatihan olah umbi-umbian yang dijadwalkan Maret 2006, oleh staf Yayasan Alam Lestari.

 

Lain di Nangga, lain pula di Waingapu. Staf Yayasan Alam Lestari yang baru pulang kunjungan belajar budidaya dan olah umbi-umbian dari Simpul Pangan Jogjakarta mendapat kesempatan untuk melatih ibu-ibu PKK di rumah dinas Bupati Sumba Timur. Upaya itu sekaligus digunakan adalah promosi langsung pada pemerintah kabupaten untuk mengngakat harkat umbi-umbian lokal yang berlimpah di desa-desa.

 

Pelatihan budidaya dan pengolahan umbi-umbian lokal ini adalah upaya pemberdayaan masyarakat dalam memperjuangkan ketahanan pangan di desa-desa. Berdasarkan identifikasi masyarakat saat melakukan studi banding ke Jogjakarta, di Kecamatan Karera terdapat jenis-jenis seperti iwi, ganyur [Canna edulis], litang [Dioscoreta alata], hili [Xanthosoma violaceum], kalita atau tangiggu [Maranta arundinacea], luai [Monihot esculanta], katabi [Ipomoea batatas], kabuota [Amorphophalus companulatus], wiwatu [Dioscorea bulbifera]. Semuanya dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi berbagai macam panganan. Saat ini beberapa orang turut membudidayakan umbi-umbi itu di pekarangan. Dahulu umbi-umbi itu hanya diperoleh di hutan ketika paceklik datang dan masyarakat kekurangan pangan.

 

Brownies dan kue keriung lain yang dibuat dari bahan pati umbi-umbian sudah mulai bermunculan di Sumba Timur. Dorongan pihak-pihak lain untuk melestarikan umbi-umbian sebagai pangan lokal pun tumbuh. Selain dari Dharmawanita Sumba Timur, sebuah stasiun radio FM lokal menyiarkan wawancara langsung seputar kiprah Yayasan Alam Lestari memanfaatkan umbi-umbian sebagai ketahanan pangan masyarakat

 

Brownis di desa Nangga bukan saja menjadi simbol kebangkitan rakyat untuk membangun ketahanan pangan desa tetapi sekaligus meruntuhkan stigma yang telah tumbuh bertahun-tahun bahwa umbi identik dengan kemiskinan. Langkah itu bukanlah pekerjaan mudah,  perlu keberanian dan kepedulian untuk mencintai kekayaan hayati milik sendiri. Kepada mereka yang telah  membuktikan umbi-umbian dapat bermanfaat dan berharga layak disebut pejuang. Mudah-mudahan gaya hidup seperti itulah yang berkembang di masa depan di desa-desa Sumba Timur. Jangan cuma cinta brownies karena ikut-ikutan. [*]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Paket “three in one” Konservasi Lahan Kering

di Sumba Timur

 

 

Potensi ternak dan masalahnya

 

Peternakan di kabupaten Sumba Timur sudah berlangsung lama, bahkan menurut J de Roo (1890), kuda sandel (sandalwood) sudah menjadi bagian hidup masyarakat di sana sejak pertengahan abad ke-18, terutama sebagai alat transportasi. Perdagangan kuda ke luar Sumba Timur melalui Waingapu sudah berlangsung sejak tahun 1840-an. Pada jaman dulu, kuda sebagian besar dimiliki dalam jumlah besar oleh kaum bangsawan dan melalui para bangsawan itulah banyak kuda diperdagangkan ke luar Sumba. 

 

Luas lahan penggembalaan mencapai 217.797 hektar, sedangkan jumlah populasi kuda pada tahun 2001 mencapai 25.845 ekor  dan populasi sapi sebanyak 36.714 ekor.  Perdagangan antarpulau dengan tujuan Surabaya dan Jakarta selama empat tahun terakhir mengalami penurunan, sapi misalnya dari 6.901 ekor (1998) menjadi sekitar 3.564 ekor (2001), Kerbau dari 5.741 ekor (1998) menjadi 2.980 ekor (2001), Walaupun mengalami penurunan jumlah yang cukup signifikan, ketiga hewan tersebut tetap memiliki nilai penting bagi masyarakat Sumba Timur, baik sebagai tambahan penghasilan, terutama sebagai status simbol dalam berbagai upacara tradisional. 

 

Walaupun bukan unggulan, ternak boleh dibilang menjadi tambahan penghasilan yang penting bagi masyarakat Sumba Timur. Hal ini disebabkan adanya sistem pertanian yang masih subsistem dan musim yang tak menentu membuat masyarakat tidak bisa mengandalkan hidup dari hasil pertanian. Namun usaha ternak di Sumba Timur bukan tidak lepas dari masalah, terutama kurangnya padang rumput memberikan pakan bagi ternak. Selain musim yang kering yang panjang, dan kebakaran, serangan gulma Chromonela odorata [kirinyu] semakin mendesak habitat rumput liar di padang sabana.

 

Memetakan potensi mencari solusi

 

Ide membudidayakan rumput untuk mengatasi kekurangan pakan ternak di padang sabana sebagai rekomendasi penelitian Fakultas Pertanian UNDANA disambut dingin oleh masyarakat Sumba. Pasalnya mereka selama ini hanya mengenal sistem ternak lepas [overgrassing], selain adanya padangan budaya setempat bahwa pemilik ternak adalah majikan, pantang bagi majikan untuk bekerja menyediakan rumput untuk ternaknya. Padahal manfaat lain dari budidaya rumput ini untuk mencegah tergerusnya unsur hara di lahan pertanian karena aliran permukaan [run off] saat musim hujan, namun warga tetap tak bersungut menghadapi rendahnya produktivitas lahan kering mereka.

 

         Krisis energi tak terkecuali juga melanda hingga pelosok Sumba Timur. Padahal di Kecamatan Karera, beberapa kelompok tani bergantung pada BBM yang harus dibelinya dari Waingapu, Ibukota Sumba Timur yang jaraknya 60-an km dari desa Kecamatan. Handtractor, diesel menganggur karena tak ada solar untuk di beli. Masyarakat lebih intensif menebang pohon di hutan karena adanya permintaan penduduk kota yang beralih ke kayu bakar. Bila tak dicarikan solusinya, hutan bisa habis akibat krisis BBM ini.

 

Program energi terbarukan yang disosialisasikan KEHATI kepada masyarakat setempat diawali mengidentifikasi sumberdaya hayati yang dapat dijadikan sumber energi di desa. Di kecamatan Karera limbah ternak tidak termanfaatkan. Selain itu ada 7 jenis tumbuhan yang berpotensi menghasilkan minyak sebagai bahan bakar. Selain membuat studi penjajagan kebutuhan energi di desa, masyarakat dari kecamatan Karera difasilitasi untuk studi banding ke Boyolali, tepatnya ke kelompok peternak sapi perah yang telah mampu dan menjadi “tukang ahli” membuat biodigester. Hasil studi penjajagan yang difasilitasi oleh Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan Surakarta mencatat hasil sbb:

 

·      Asumsi potensi limbah ternak

o      Ternak di ke lima desa masing-masing menurut jenisnya berjumlah: 1994 sapi, 2532 kerbau, 1306 kuda, 831 kambing, 3407 ayam [diperkirakan jumlah ini lebih besar lagi, karena tabu bagi masyarakat menyebut jumlah sesunguhnya yang dimiliki]

·      Asumsi perhitungan potensi biogas

o      Kerbau dan sapi di Karera 4526 ekor. Seekor ternak menghasilkan kurang lebih 15 kg/hari kotoran. 1 Kg kotoran menghasilkan 40 liter gas. Potensi pemenuhan kebutuhan 4526 x 15 x 40 = 2.715.600 liter gas

o      Bila satu rumah tangga [5 orang keluarga batih] membutuhkan energi 1000 liter, maka berarti potensi itu dapat memenuhi 2.715 KK

·      Asumsi penggunaan kayu bakar

o      Bila 1 pohon = 1000 kg, maka jumlah pohon ditebang = 52760/ 1000 = 52,8 kg/hari atau 774 kg / bulan atau 9.288 kg/ tahun

o      Jumlah Tungku di 5 desa = 2 kali jumlah KK (1319) = 2638 tungku

o      1 KK menghabiskan 10-20 kg/hari, bila jumlah itu diasumsikan 1 setiap KK menggunakan 2 tungku, maka berat kayu = 2638 x 20 kg = 52.760 kg/ hari

 

         Melalui berbagai diskusi pengembangan program, ternyata masyarakat tidak hanya tertarik untuk membuat biodigester dan tungku hemat energi, tetapi menjadi lebih menghargai potensi sumberdaya yang dimiliki bila dapat dikelola dan bermanfaat. Hal itu terbukti ketika masyarakat akhirnya menyadari “kerepotan” menanam rumput dan mengandangkan ternak ternyata juga membawa manfaat bagi penyediaan energi [biogas], pakan ternak dan pupuk kandang. Semula kegiatan yang dianggap sebagai “hambatan budaya”, akhirnya mampu diterima masyarakat sebagai pilihan bersama dalam pengelolaan sumberdaya lokal di desa. Sementara itu pengembangan tungku hemat energi yang diprioritaskan pada masyarakat bukan pemilik ternak juga disadari sebagai upaya untuk lebih menghemat pemakaian kayu bakar.

 

Belajar Bersama Membuat Biodigester 

 

         Pada pertengahan Juni 2006 masyarakat di Desa Nangga berhasil menyelesaikan pembangunan satu unit biodigester. Menggunakan pendekatan belajar bersama, LPTP Surakarta dan Yayasan Alam Lestari sebagai pendamping masyarakat membuat semacam praktek dan melatih wakil-wakil masyarakat dari 3 desa di Kecamatan Karera sebagai calon “tukang ahli” pembuat biodigester dibantu seorang warga Boyolali yang sudah terampil. Satu unit biodigetser beserta instalasinya berhasil dirampungkan termasuk kandang ternak berlantai yang pertama di Sumba.

 

         Praktek membuat tungku hemat energi mendapat sambutan masyarakat luas. Delapan unit tungku hemat kayu bakar berbahan bata dan semen berhasil diselesaikan di desa Nangga, Janggamangu, Praimadita, Ngongi dan Tandulajangga. Sebagian dana pembuatan tungku merupakan swadaya masyarakat. Sayangnya peran community organiser dan pendamping lapang lapang kurang optimal berperan mengerahkan masyarakat dalam pelatihan 20 hari itu, sehingga pendekatan belajar bersama yang diharapkan dapat menghadirkan lebih banyak warga desa tidak tercapai.

 

Sekali mendayung dua tiga manfaat didapat

 

         Pembuatan biodigester sebagai antisipasi atas kebutuhan energi di desa ternyata mampu menjadi entrypoint bagi program konservasi lahan kering lainnya. Budidaya rumput selain mampu mendorong praktek pengelolaan ternak lepas menjadi semi intensif, juga mampu memenuhi sediaan pakan ternak segar di musim kemarau. Sebaliknya di musim hujan, rumput yang ditanam dekat pekarangan mampu menghambat terjadinya erosi permukaan yang melarikan lapisan humus di lahan kering. Pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas selain menghasilkan energi, juga menghasilkan slurry hasil samping biogas yaitu pupuk kandang yang sudah terdekomposisi dan dapat digunakan langsung untuk penyubur lahan. Paket Konservasi Lahan Kering “Three in One “ ini bisa jadi model pengelolaah lahan kering yang berkelanjutan [*]

 

 

 

 

 

 

Riset Berbasis Masyarakat di P. Semau, Kupang dan Bintuni, Manokwari : Benarkah Dapat Dilakukan dan Bermanfaat Bagi Masyarakat?

 

Bukan rahasia lagi adanya ungkapan hasil riset cuma jadi laporan penelitian belaka atau bahan membuat proposal pendanaan untuk penelitian berikutnya. Dengan kata lain sekian banyak penelitian yang dilakukan oleh berbagai institusi ternyata tidak untuk tujuan memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Walaupun hal ini dapat saja diperdebatkan namun KEHATI belajar untuk tidak salah melangkah dalam melakukan penelitian atau bekerjasama dengan para peneliti. Karenanya KEHATI sengaja memilih penelitian terapan yang hasilnya sedapat mungkin untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

 

Banyak rekomendasi penelitian yang seharusnya dapat dikembalikan bagi kepentingan masyarakat, namun terkadang tujuan penelitian adalah untuk melakukan penelitian saja, soal hasilnya silahkan saja bagi siapa yang tertarik dapat melakukan aplikasinya. Hal seperti itu yang coba dihindari oleh KEHATI dengan melakukan pendekatan penelitian berbasis masyarakat atau riset partisipatif.

 

Meski sudah banyak lembaga yang melakukan jenis riset partisipatif ini, namun kerangka penelitian berbasis masyarkaat yang dikembangkan KEHATI di wilayah DAS Kaitero, Kecamatan Babo, Teluk Bintuni Manokwari dan  Pulau Semau, Kupang NTT menggabungkan beberapa pendekatan. Skema riset partisipati disatu sisi karena melibatkan masyarakat , civitas akademika dan LSM , disisi lain bertujuan untuk mempromosikan riset terapan di kalangan mahasiswa dan dosen pembimbing, sehingga Perguruan Tinggi lebih mempertajam perannya pada penelitian yang dapat membawa manfaat langsung pada masyarakat selain mencetak mahasiswa yang peduli dengan problem masyarakat. Apa kelebihan pendekatan ini?

 

Masyarakat merupakan nara sumber yang valid atas permasalahan yang dihadapi, sekaligus dari merekalah identifikasi permasalahan dianalisis melalui diskusi terfokus [focus group disccusion] yang melibatkan masyarakat, peneliti umumnya diwakili pihak perguruan tinggi dan LSM yang mengkoordinir pelaksanaan tsb.

 

FGD menghasilkan topik atau tema penelitian yang diharapkan dapat memberikan informasi pada permasalahan yang dihadapi masyarakat. Hasil ini kemudian digodok oleh sebuah Tim yang beranggotakan dosen peneliti, dan tokoh masyarakat. Bahkan anggota Tim dan wakil masyarakat akan duduk menjadi Tim penelaahan proposal penelitian.

 

Hasil topik riset prioritas di sosialisasikan di kalangan kampus untuk menarik mahasiswa terlibat dalam penelitian ini. Proposal mahasiswa akan diseleksi oleh Tim Penelaah. Proposal penelitian yang terpilih akan difasilitasi dari segi transportasi, biaya penelitian, akomodasi di lapangan termasuk bertemu dengan masyarakat yang mengusulkan “masalah”nya untuk di teliti atau dicarikan solusinya

 

Hasil penelitian akan didiskusikan oleh tim penelaahan plus wakil masyarakat, sehingga bukan saja menjadi data ilmiah tetapi juga menjadi informasi yang wajib disosialisasikan kepada masyarakat. Hasil penelitian akan digunakan masyarakat untruk membuat perencanaan program.

 

Pada pengembangan inisiasi program di DAS Kaitero, Teluk Bintuni dan P. Semau, Kupang, KEHATI bersama mitranya Perkumpulan PERDU Manokwari dan Yayasan Pandu Lestari menerapkan pola ini, dan mendapatkan dukungan dari Universitas Papua [UNIPA], Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Manokwari dan Universitas Nusa Cendana [UNDANA] Kupang. Antusias kalangan kampus pun sangat tinggi, di Manokwari misalnya saat sosialisasi dilakukan dihadiri lebih dari 100 mahasiswa, sementara di UNDANA Kupang dihadiri lebih dari 50 mahasiswa. Demikian pula Dosen-dosen universitas bersemangat menyusun Tim Penelaah usulan penelitian dan mampu melakukan identifikasi masalah dan potensi melalui FGD bersama masyarakat, lalu menyusunnya dalam topik riset prioritas. Tim inilah yang akan menyeleksi proposal dari para mahasiswa yang mengajukan usulan. Proposal penelitian terbaik yang akan dipilih tim penelaah.

 

Kunci keberhasilan dari program penelitian berbasis masyarakat ini adalah kerjasama antara LSM, Perguruan Tinggi [dosen dan mahasiswa] dan masyarakat. Peran Perguruan Tinggi dengan dukungan ilmu pengetahuan, tenaga berpendidikan dan mahasiswa melakukan penelitian dan mengkaji hasil riset. Masyarakat menjadi nara sumber dan turut mendukung penelitian yang dilakukan di lingkungannya dan LSM yang mengkoordinasikan semua aktivitas dan menjadi pendamping kelompok masyarakat akan memperoleh data dan informasi yang cukup untuk melakukan pengembangan program dan pengorganisasian bersama masyarakat.

 

Sementara ini dari hasil identifikasi Tim Penelaah dan masyarakat yang dilakukan di Das Kaitero diprioritaskan untuk mengetahui  ketersediaan bahan pangan lokal. Sedangkan di P. Semau berkenaan dengan masalah pertanian dan rusaknya ekosistem pertanian. Namun bukan itu saja, identifikasi di kedua lokasi juga menunjukkan kebutuhan informasi masyarakat setempat. Di Das Kaitero misalnya masyarakat tertarik mengetahui budidaya kepiting dan pengelolaan hutan Bakau. Sementara itu di P. Semau masyarakat tertarik mengembangkan pola usaha tani berkelanjutan, pengelolaan air dan energi dari  bahan nabati seperti tanaman jarak yang banyak tumbuh liar di kawasan itu.

 

Hasil akhir penelitian ini akan dikaji bersama antara LSM pendamping, Tim Penelaah dan wakil masyarakat untuk disosialisasikan kepada masyarakat. Mahasiswanya sendiri selain dapat menyusun skripsi sebagai tugas akhirnya juga akan mendapat bekal berupa pengalaman mengasah ilmu dan bekerja pada masyarakat sesuai bidang yang ditekuninya. LSM dan masyarakat pun akan mendapatkan informasi yang cukup untuk melakukan perencanaan ataupun melakukan berbagai aksi kegiatan di lapangan. Tantangan dari riset berbasis masyarakat ini adalah keberanian “orang kampus” keluar dari aspek teoritis dan melakukan riset dan kajian yang lebih membumi dan sesuai fakta yang ada di lapangan dan masalah yang dihadapi masyarakat tanpa kehilangan aspek ilmiahnya.

 

Inisiatif yang didapat dari proses itu kelak akan menjadi bahan belajar bersama masyarakat. Peran LSM pendamping pada fase ini adalah menciptakan media dan wadah belajar agar proses belajar dan praktek lapangan berlangsung efisien. Wadah belajar masyarakat ini nantinya yang akan menjadi pusat pemberdayaan masyarakat untuk belajar tentang topik tertentu yang berkenaan dengan hasil penelitian tadi. Dengan pola seperti itu, kolaborasi LSM, Perguruan Tinggi dan Komunitas masyarakat akar rumput ini seharusnya mampu menjadi kekuatan pembangunan di daerah.[*]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Republik Ricinus Communis

 

 

Ada negara komunis baru ? Ah bukan, itu hanya nama rekaan saja yang saya berikan pada Pulau Semau di ujung teluk Kupang. Pulau Semau seolah menyempal itu adalah bagian dari ibukota provinsi NTT karena letaknya yang sangat dekat dengan Pelabuhan Tenau di Kupang. Pulau Semau nyaris tak tersentuh denyut pembangunan di Kupang, seolah seperti sebuah “negera” tersendiri.

 

Datanglah ke Pulau Semau di ujung teluk Kupang. Berlabuh dengan perahu bermotor hanya butuh 45 menit saja. Dari Tenau dapat dilihat sebaris pulau tertutup tajuk hijau pepohonan hutan. Tapi bagi saya pulau itu seperti menyimpan misteri karena nampak tidak berpenghuni dari kejauhan atau seperti pulau yang tertidur, tidak terlihat kehidupan, juga gerak pembangunan.

 

Benar saja, begitu mendekat pulau, perahu yang saya tumpangi menuju pantai berkarang yang menjorok mendekati daratan. Tidak ada jembatan penambat perahu, tidak ada tangga. Sulit rasanya percaya bahwa di seberangnya terdapat pelabuhan dan dermaga besar Tenau.

 

Memasuki Pulau Semau, terpaksa berkendara motor. Banyak jasa pengojek motor, tapi kami bawa motor dari Kupang dalam perahu. Karena tak ada jembatan, maka jasa pengangkut sepeda motor pun terpaksa dipesan. Tak ada jalan beraspal, jalan utama di pulau ini adalah tanah yang dikeraskan. Sepanjang jalan di kiri dan kanan terdapat kebun-kebun penduduk dengan rumah-rumah yang berjauhan.

 

Memasuki jantung kota kecamatan, saya jumpai berjuta-juta tumbuhan jarak Ricinus Communis tumbuh liar menyesaki lapangan dan tanah-tanah tak tergarap. Alangkah kaya pulau Semau bila saja dapat memanfaatkan biji Ricinus communis penghasil castor oil alias minyak pelumas mesin kendaraan bermotor. Seorang kolega dari Jepang yang turut dalam perjalanan tercengang melihat kelimpahan Ricinus Communis tak termanfaatkan. Karenanya saya menamakan pulau ini RRC alias Republik Ricinus Communis.

                                                               Gbr. Ricinus communis

Selain itu, jarak pagar [Jatropa curcas] juga ada di dekat pekarangan penduduk, walaupun nampaknya tidak sebanyak jarak Ricinus. Lontar, gebang, padi dan tumbuhan hutan nampak sebagai latar di jalan utama maupun jalan-jalan menuju desa. Sehingga rasanya kita sedang berjalan di tengah hutan atau di dalam areal Taman Nasional. Kebun jagung dan sawah tadah hujan juga saya temukan di ladang milik penduduk. Beberapa hasil kebun seperti semangka, bonteng [sejenis timun lokal yang agak bulat] merupakan sumber nabati lain yang dipungut penduduk.

 

Semau hanya memiliki satu kecamatan. Ada rencana pengembangan kecamatan yaitu Semau Selatan yang akan membawahi 6 dari 14 desa yang tadinya berada dalam satu kecamatan lama. Di Semau ada 12 SD, 3 SMP dan hanya 1 SMA.  Lahan sebagian besar di dominasi oleh lahan dengan bentang lahan relatif datar sampai bergelompang dengan kemiringan 10-20%.  Tanah didmoninasi oleh jenis Litosol dengan tingkat kejenuhan basa sedang sampai tinggi. Kadungan liat tanah terbatas terutama jenis liat kaolinit sehingga mempengaruhi kemampuan ikat unsure hara dan dampaknya unsusr hara yang dibutuhkan tanaman pertanian menjadi kurang tersedia. Sebagian lahan didominasi lahan kering yang dijadikan tempat budidaya dengan diversifikasi rendah.

 

Kawasan budidaya teridiri dari perladangan, tegalan, kolam dan perhutanan rakyat. Budidaya rumput laut juga ditemukan di beberapa desa yang dekat dengan pantai. Pola budidaya tersebut sebenarnya tidak terpisah secara tegas melainkan merupakan suatu perpaduan kecuali sawah. Bahkan sawah sekalipun pada  musim kemarau dimanfaatkan sebagai tegalan untuk bertanam palawija.

 

Kunjungan ke pulau Semau kali ini untuk mendiskusikan hasil studi penjajagan pengelolaan sumber daya alam bersama wakil masyarakat dan perangkat desa dari Desa Akle, Oiboa, dan Uithiuhana. Hasil studi berupa identifikasi masalah disampaikan kepada wakil masyarakat untuk mendapatkan tanggapan. Sebelumnya Tim UNDANA Kupang telah melalukan studi penjajagan dan diskusi dengan masyarakat di ke tiga desa itu. Dalam diskusi didapatkan informasi bahwa persoalan utama mereka adalah kurang pengetahuan dan informasi dalam pengelolaan sumber daya alam khususnya pertanian dan rendahnya produktifitas lahan serta sulitnya akses ekonomi.

 

Tim UNDANA dan Yayasan KEHATI berupaya menjawab persoalan itu dengan menawarkan program “Belajar Bersama Masyarakat”, agar ada transfer pengetahuan khususnya pertanian dalam menunjang kehidupan masyarakat. Penelitian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat akan diupayakan melibatkan mahasiswa dan peneliti UNDANA. Selain diharapkan meningkatkan kontribusi civitas akademika dalam pembangunan di Semau juga memberi kesempatan mahasiswa terlibat penelitian bersama masyarakat. Materi hasil penelitian akan diterjemahkan sebagai bahan belajar bersama masyarakat.

 

Harapan bahwa Pulau Semau mempunyai Pusat Informasi dan Belajar bagi masyarakatnya bukanlah hal yang muluk. Keinginan kuat masyarakat sebagai pemilik kekayaan sumber daya hayati dan komunitas ‘terpelajar” yang mau turun desa berbagai ilmu adalah modal utama. Akankah sinergi itu menjadi jembatan pembangunan Pulau Semau dan Kupang ibukota provinsi NTT itu? Tentu republik tercinta ini menanti buktinya.[*]


Di Kei Kecil, Kita Menaruh Harapan Besar

 

 

Kepulauan Kei di Maluku Tenggara terdiri dari pulau Kei Besar, Kepulauan Kei Kecil, termasuk pulau Dullah dan Dullah laut atau Duroa. Dari udara kepulauan itu tampak seperti untaian surga hijau di archipelago dengan garis pantai berwarna hijau, biru dan biru tua menandakan gugusan terumbu karang yang menghampar di bawahnya. Sementara di pulau-pulaunya hutan hijau dan gerombol nyiur menawan hati. Tapi jangan kaget bila di Dullah laut atau Duroa, dikenal sebagai kampung komunitas nelayan yang masih menggunakan bom dan sianida untuk mendapatkan ikan.

 

Pemakaian bom dan sianida di Duroa itu cukup mencemaskan mengingat pulau Duroa sebenarnya dikelilingi terumbu karang tempat tinggal ikan yang menjadi satu bagian dari keberadaan pulau-pulau yang lebih kecil di sekitar Duroa. Ada delapan pulau tak berpenghuni di sekitar Duroa. Semua orang di Tual mahfum, Duroa adalah dapurnya ikan Kabupaten Maluku Tenggara. Tidak mengherankan bila di ujung pulau Dulla, persis berhadapan dengan Pulau Duroa terdapat perusahaan pengalengan ikan terbesar di Asia Tenggara. Menurut nelayan di pulau Duroa penggunaan bom dan sianida dipicu oleh keberadaan perusahaan tangkap ikan yang marak beroperasi di perairan itu. Tingginya harag yang ditawarkan untuk ikan segar [hidup] mendorong nelayan meracun ikan hingga ikan mabuk, kemudian dijual dalam keadaan hidup-hidup.

 

Kei seperti halnya pulau lain Maluku dikenal dengan tradisi perlindungan terhadap sumberdaya pesisir laut yang disebut sasi atau diterjemahkan bebas sebagai larangan. Orang Duroa sendiri menyebutnya hawear yaitu upaya melindungi jenis biota laut tertrntu hingga saatnya layak di panen. di Duroa, selain lembaga adat yang mempunyai kewenangan terhadap pemberlakukan sasi, gereja secara aktif juga mengusulkan larangan pengambilan sesuatu jenis [hasil laut atau kebun] sampai masa dicabutnya larangan tersebut atau “buka sasi”.

 

Secara umum Sasi atau hawear di Kepulauan Kei masih ada dan berlaku, tetapi keberadaannya bagai matisuri karena tidak dihiraukan oleh berbagai aturan dan hukum yang ada. Celakanya, perusahan penangkapan ikan yang memiliki ijin usaha dari Pemda sering mengambil ikan di wilayah kelola tradisional, bahkan pada saat diberlakukan “tutup sasi”. Lebih parah lagi orang dari kampung pun ikut-ikutan memanen ikan dengan cara penangkapan yang tidak lestari. Sasi atau hawear terdesak oleh kepentingan ekonomi yang lebih besar. “Terkadang masyarakat desa dibuat kaget karena ijin pengambilan tersebut ada d ilokasi tutup sasi” kata Jhon Bosco dari Yayasan Hivlak. Tutup sasi dimaksudkan agar sementara waktu pengambilan jenis-jenis ikan atau buah-buahan tertentu tidak dilakukan untuk kepentingan regenerasi. Bila terjadi pelanggaran atas teritori sasi yang dilakukan oleh orang luar [bukan warga dari wilayah diberlakukannya sasi ]  komunitas nelayan dan pimpinan adat  tak bisa berbuat apa-apa.

 

Praktek-praktek seperti itu mendorong desa-desa di Kei Kecil untuk melindungi hak petuanannya [tanah ulayat] dengan memberlakukan sasi secara serius. Upaya itu dilakukan Yayasan Hivlak dan KEHATI dalam kerjasamanya menggarap sebuah program radio yang dirancang untuk mengajak komunitas nelayan berdialog dan menceritakan berita-berita dari kampung. Komunitas nelayan yang masih memegang teguh praktek sasi dipertemukan dengan komunitas nelayan Duroa yang terkenal eksploitatif sehingga terjadi diskusi yang hangat di kalangan mereka.

 

Pada kesempatan lain, diundang pula pakar kelautan dari LIPI, pemerhati lingkungan dan praktisi konservasi seperti WWF yang berbasis di Tual, untuk menjelaskan dampak kerusakan laut dari penggunaan bom dan sianida dan alternatif pengelolaan yang lebih lestari. Direncanakan pula narasumber dari Kepolisian, Kejaksaan, Angkatan Laut [LANAL TUAL] dan LANUD untuk berbagai cerita seputar pelanggaran dalam prosedur penangkapan ikan  di wilayah perairan Maluku Tenggara.

 

Sharing di udara ini didengar oleh masyarakat luas, mengingat siaran dialog interaktif ini diudarakan dua kali sebulan oleh satu-satunya radio swasta Gelora Tavlul di Tual. Tidak diduga pertemuan “di udara” pun berlanjut di darat.  Pertemuan antar kampung yakni masyarakat dari desa Rumadian, Sathean di Pulau Kei Kecil ikut berdiskusi dengan rekan-rekan dari Pulau Duroa dan mendorong mereka untuk kembali menerapkan Sasi dan meninggalkan kebiasaan mengebom dan meracun ikan di laut.

 

Pertemuan-pertemuan selanjutnya digelar  sehingga seluruh masyarakat dari desa-desa itu mencanangkan untuk memproklamirkan pemberlakukan sasi. Bahkan pejabat di desa pun menginginkan agar sasi, aturan adat dari leluhur itu dimuat dalam Peraturan Desa [PERDES]. Pak Yohanes, Kepala Desa dan Pak Teddy Kepala Dusun dari Pulau Doroa adalah yang termasuk mendukung upaya itu. Mereka bahkan menetapkan larangan pengambilan kelapa dalam waktu dekat ini. “Kami tinggal mengundang tetua-tetua adat saja untuk menetapkan sasi kelapa ini di desa, sebagai perangkat desa kami memfasilitasi saja” ujar Pak Teddy. Sebelum diberlakukan “tutup sasi kelapa”, warga desa dibiarkan memanen kelapa secukupnya untuk kebutuhannya.

 

Sejak pertemuan itu, berbagai langkah strategis disusun dan banyak rencana tindaklanjut mempertemukan warga desa untuk mendiskusikan rencana menuliskan sasi atau hawear ke dalam PERDES. Bila PERDES tersusun, teman-teman di Hivlak pun berinisiatif untuk menuangkan PERDES dalam peraturan daerah [PERDA] agar praktek tradisional pengelolaan SDA mendapat perlindungan hukum dan diakui keberadaannya. “Ini mimpi kita bang !” kata Yos dari Hivlak dengan yakin.

 

Mungkin mimpi Yos itu bukan mimpinya sendiri. Mungkin komunitas nelayan di Maluku Tenggara punya mimpi yang sama untuk menjaga wilayah petuanannya dihormati semua pihak.   Mungkin kita juga punya mimpi yang sama. Ya,.. di Kei Kecil kita berharap besar pada mimpi itu. [*]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Poskan Komentar

About me

Rio R. Bunet
Penyuka jalan-jalan, naik kereta dan sepeda pancal, bertaman dan berkebun... dan meneropong benda langit..